Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Anak Dipaksa, Bapak Gila Kekuasaan': Gibran Jadi Korban

'Anak Dipaksa, Bapak Gila Kekuasaan': Gibran Jadi Korban Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pegiat media sosial Chusnul Chotimah menyoroti Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang terlihat murung saat duduk sejajar dengan para Menteri Koordinator dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026). Dalam acara tersebut, Gibran tidak lagi duduk di samping Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Chusnul, hal tersebut merupakan konsekuensi dari praktik politik dinasti, di mana anak dipaksa masuk ke panggung politik oleh ayahnya dan akhirnya menjadi korban.

"Begini akibat anak dipaksakan, bapak yang gila kekuasaan, anak yang jadi korban," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Kamis (23/7).

Posisi Gibran itu memicu spekulasi liar. Salah satu narasi yang berkembang adalah dugaan bahwa Gibran diam-diam telah “diturunkan pangkatnya” dari Wakil Presiden menjadi setara Menko.

"Narasinya berubah menjadi liar. Ada yang menyebut Gibran diam-diam pangkatnya itu sudah diturunkan, atau posisinya itu sekarang hanya sekelas Menko dan tidak lagi berperan sebagai Wakil Presiden," ujar jurnalis senior Hersubeno Arief dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Rabu (22/7).

Hersu menegaskan bahwa secara konstitusional, posisi Wakil Presiden tetap berada di atas Menko. Wapres memiliki kewenangan menggantikan Presiden apabila berhalangan tetap, meninggal dunia, atau mengundurkan diri.

"Padahal kan Wakil Presiden ini, bagaimanapun juga, kelasnya pasti di atas para Menko karena dia kan setiap saat akan bisa menggantikan posisi Presiden," jelasnya.

Baca Juga: Setelah Kursi Kabinet, Kini Posisi Gibran di Pelantikan Kepala BGN Jadi Perhatian

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memberikan klarifikasi resmi terkait posisi duduk Gibran. Ia menegaskan bahwa perubahan tata letak meja sidang murni karena kebutuhan teknis operasional, bukan karena adanya keretakan politik.

"Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan adalah bapak presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari bapak wakil presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan," ujar Prasetyo.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya