Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bahlil Pastikan RI Sudah Impor Minyak Rusia, Bukan Langsung Jadi BBM Lalu Buat Apa?

        Bahlil Pastikan RI Sudah Impor Minyak Rusia, Bukan Langsung Jadi BBM Lalu Buat Apa? Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah memastikan impor minyak mentah dari Rusia sudah mulai direalisasikan sebagai bagian dari strategi memperkuat cadangan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan minyak yang didatangkan tersebut tidak langsung diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM), melainkan disiapkan sebagai stok penyangga energi Indonesia.

        Penegasan itu sekaligus meluruskan berbagai spekulasi mengenai tujuan impor minyak Rusia setelah pemerintah mengumumkan kerja sama energi dengan Moskow beberapa waktu lalu.

        Bahlil mengatakan realisasi impor tahap pertama telah berjalan melalui skema kerja sama antarpemerintah atau government to government (G-to-G). Dalam pelaksanaannya, pemerintah menunjuk Lemigas sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian ESDM.

        "Teman-teman kan sudah saya jelaskan bahwa tahap pertama sudah terealisasi. Ya, yang melakukan impor itu adalah pemerintah Indonesia. Saya ulangi, yang melakukan impor BBM Rusia itu adalah pemerintah Indonesia, G-to-G, dan kami dari pemerintah menugaskan Lemigas sebagai BLU dari ESDM yang melakukannya," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026).

        Menurut Bahlil, langkah tersebut bertujuan memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar minyak global. Pemerintah ingin mengantisipasi potensi gangguan pasokan maupun lonjakan harga minyak dunia.

        "Jadi, ini akan terus-menerus karena apa? Tujuannya adalah untuk menjaga cadangan kita jangan sampai terjadi kekurangan dan sekaligus memastikan bahwa energi dalam negeri kita bisa tersedia," katanya.

        Sebelumnya, pemerintah mengumumkan rencana mengimpor sekitar 150 juta barel minyak dari Rusia. Kesepakatan itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

        Meski demikian, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan minyak yang diimpor tersebut tidak akan langsung diproses menjadi BBM untuk kebutuhan masyarakat.

        Baca Juga: Nggak Dikasih Ampun, Pertamina Tindak SPBU yang Layani Pelangsir BBM Subsidi

        "Itu (Impor Minyak Rusia) menjadi cadangan penyangga energi nasional," ujar Yuliot di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026).

        Yuliot juga belum memastikan kabar mengenai masuknya minyak asal Rusia melalui Pelabuhan Balikpapan. Menurut dia, pemerintah masih melakukan pengecekan karena minyak yang diterima Indonesia umumnya berasal dari skema blending melalui pemasok.

        "Untuk itu pengadaan minyak itu kan ada Indonesia blend. Indonesia blend itu kan jadi minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi, supplier yang ada itu ya kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara blending. Jadi, saya rasa itu dari mana asal ini ya, apakah itu ada ya dari Rusia, berapa jumlahnya kami cek dulu ya," kata Yuliot.

        Dengan demikian, pemerintah menegaskan impor minyak Rusia bukan untuk langsung menambah pasokan BBM di pasar domestik, melainkan sebagai bagian dari upaya memperkuat cadangan energi nasional agar pasokan tetap aman ketika terjadi gejolak di pasar global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: