Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ada Sinyal Darurat di Balik Mundurnya Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI: Jika Ketuanya Saja...

        Ada Sinyal Darurat di Balik Mundurnya Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI: Jika Ketuanya Saja... Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mundurnya Perry Warjiyo dari posisinya sebagai ketua bank sentral memunculkan berbagai spekulasi di tengah kondisi ekonomi yang sedang mendapat tekanan. Salah satunya adalah hal tersebut merupakan sinyal darurat ekonomi dalam era dari Prabowo Subianto.

        Konsultan Investasi Asing, Hadi Saputra menilai keputusan tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai pergantian jabatan biasa, terutama karena terjadi saat nilai tukar rupiah tengah menghadapi tekanan besar.

        Baca Juga: 'Prabowo Seolah-olah Tak Bisa Ganti Orang-orang Lama Jokowi'

        “Alasan resminya? Klasik: ‘alasan pribadi’. Tapi faktanya, dia mundur tepat saat Rupiah babak belur nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar akibat kekacauan global,” kata Hadi dikutip Rabu (29/7/2026).

        Ia menilai bahasa diplomatis sering digunakan dalam situasi pengunduran diri pejabat bank sentral, terutama ketika terjadi di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil. Hadi menyebut alasan pribadi atau kesehatan yang sering muncul dalam kasus pengunduran diri pejabat bank sentral perlu dilihat lebih kritis.

        “Ketika seorang gubernur bank sentral tiba-tiba mundur di tengah jalan, alasan ‘pribadi’ atau ‘kesehatan’ itu 99% adalah omong kosong,” tuturnya.

        Menurut Hadi, posisi gubernur bank sentral memiliki peran strategis karena menjadi salah satu penjaga utama stabilitas ekonomi suatu negara. Ia menjelaskan, bank sentral memiliki tugas menjaga nilai mata uang, mengendalikan inflasi, serta menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.

        “Bank sentral merupakan benteng terakhir. Tugasnya menjaga nilai uang di dompet Anda agar tidak menjadi kertas tidak berharga,” katanya.

        Karena itu, menurutnya, keputusan seorang gubernur bank sentral untuk mundur ketika ekonomi sedang menghadapi tekanan memiliki makna lebih besar dibanding sekadar pergantian pimpinan.

        “Jika ketuanya mundur saat ekonomi sedang guncang, itu bukan sekadar pergantian jabatan. Itu adalah sinyal darurat bahwa sistem ekonomi kita sedang sekarat dan benteng pertahanan itu sudah jebol,” jelasnya.

        Hingga kini, Bank Indonesia belum menyampaikan alasan lain di luar alasan resmi terkait pengunduran diri Perry Warjiyo.

        Baca Juga: Beragam Skenario Disiapkan Jokowi untuk Gibran, Salah Satunya 'Prabowo Tak Bisa Lanjut Memimpin'

        Sebelumnya, Perry Warjiyo secara resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) di 26 Juli 2026. Padahal, masa jabatan keduanya sebagai pimpinan bank sentral masih berlangsung hingga 2028.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: