Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Kembali Balik ke Zona Hijau, Naik 0,17% ke Level 6.141,16

        IHSG Kembali Balik ke Zona Hijau, Naik 0,17% ke Level 6.141,16 Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Kembali ke zona hijau pada awal perdagangan Rabu (29/7/2026), setelah sempat tertekan pada perdagangan hari sebelumnya. 

        Penguatan ini terjadi di tengah sikap wait and see investor yang masih mencermati sejumlah agenda penting ekonomi, salah satunya penunjukkan Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif.

        Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat 0,17% ke level 6.141,16, dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di 6.130,59.

        Pada awal perdagangan, nilai transaksi mencapai sekitar Rp109 miliar, dengan volume perdagangan sebanyak 247,24 juta saham yang diperdagangkan dalam 24.783 kali transaksi.

        Pergerakan saham didominasi penguatan. Sebanyak 212 saham naik, 85 saham turun, dan 316 saham bergerak stagnan. Kondisi ini mengindikasikan tekanan jual mulai mereda sehingga membuka peluang penguatan IHSG pada awal sesi.

        Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan dibayangi banyak sentimen negatif dan berpeluang melanjutkan koreksi.

        Secara teknikal, hal itu tercermin dari histogram MACD yang terus menyempit dan Stochastic RSI yang bergerak turun di area pivot.

        "Kondisi ini menunjukkan ruang koreksi jangka pendek masih terbuka. IHSG diperkirakan akan menguji area support di kisaran 6.050-6.100," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

        Menurut Phintraco Sekuritas, tekanan terhadap IHSG tidak lepas dari pelemahan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Selasa (28/7/2026), rupiah ditutup melemah 0,41% ke level Rp18.083 per dolar AS, mendekati rekor terendah sepanjang masa di Rp18.190 per dolar AS.

        Selain itu, pelaku pasar juga masih memilih bersikap wait and see menunggu penetapan Gubernur Bank Indonesia definitif. Ketidakpastian tersebut dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter dalam waktu dekat.

        Baca Juga: BEI Minta Investor Tenang usai Perry Warjiyo Mundur dari Kursi Gubernur BI

        Baca Juga: Masuk Radar BEI, Saham DOOH, FILM, dan TAMA Kompak Ambruk

        Baca Juga: IHSG Tertekan Lima Hari Berturut-turut, Ini Sentimen yang Membebani Pasar

        Dari sentimen global, investor mencermati langkah Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) yang tengah menyelidiki dugaan kelebihan kapasitas produksi dan praktik dumping manufaktur di sejumlah negara Asia, termasuk China, Vietnam, dan Korea Selatan.

        "Jika penyelidikan tersebut berujung pada kebijakan baru, AS berpotensi menerapkan tarif impor tambahan terhadap negara-negara tersebut," ungkap Phintraco Sekuritas.

        Indonesia juga diminta mewaspadai perkembangan tersebut, mengingat sebelumnya telah dikenakan tarif tambahan sebesar 10% oleh Amerika Serikat.

        Di sisi lain, perhatian investor kini tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Rabu (29/7/2026). Bank sentral AS diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%-3,75%.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: