Iran Makin Tertekan, Arab Saudi Akhirnya Bergabung dengan Israel dan AS
Kredit Foto: Reuters/Courtesy of Saudi Royal Court/Bandar Algaloud
Sedikitnya 15 anggota Pasukan Mobilisasi Rakyat (Popular Mobilization Forces/PMF) Irak dilaporkan tewas setelah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi melancarkan serangan udara yang menargetkan sejumlah posisi kelompok yang disebut bersekutu dengan Iran. Operasi militer tersebut memicu eskalasi baru di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukan AS bersama Arab Saudi pada Selasa (28/7) melancarkan serangan udara presisi terhadap militan yang bersekutu dengan Iran di Irak. Operasi itu disebut dilakukan setelah gelombang serangan drone yang menargetkan pasukan AS dan infrastruktur energi Arab Saudi.
Sebelumnya, CENTCOM juga menyampaikan bahwa operasi tersebut menyasar tiga orang yang diduga sebagai "teroris" yang terkait dengan Iran.
Namun, berdasarkan keterangan sumber keamanan dari Kementerian Dalam Negeri Irak kepada Xinhua, serangan itu juga menghantam sejumlah markas PMF di berbagai provinsi, yakni Basra, Diyala, Salahuddin, Nineveh, dan Karbala. Akibatnya, sedikitnya 15 anggota paramiliter tersebut dilaporkan tewas.
PMF dalam pernyataan resminya mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai eskalasi yang sangat berbahaya sekaligus pelanggaran terhadap kedaulatan Irak. Organisasi itu menyatakan otoritas terkait masih memantau situasi di lapangan serta melakukan penilaian terhadap dampak serangan.
Dalam pernyataan terpisah, Komando Operasi Nineveh PMF mengungkapkan bahwa markas Batalion ke-4 Brigade ke-30 serta Direktorat Anti-Lapis Baja di kawasan Dataran Nineveh, dekat Mosul, menjadi sasaran tujuh serangan udara.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan delapan anggota Brigade ke-30 dan dua anggota Direktorat Anti-Lapis Baja, sementara enam personel lainnya mengalami luka-luka.
PMF sendiri merupakan organisasi payung yang didukung pemerintah Irak dan menaungi puluhan faksi paramiliter. Organisasi tersebut telah diintegrasikan secara resmi ke dalam angkatan bersenjata Irak setelah kampanye melawan kelompok ekstremis ISIS.
Di tengah memanasnya situasi itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pertemuan dengan Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman di Washington pada Rabu (29/7).
Baca Juga: ASEAN 'Usik' Nuklir Korea Utara, Adik Kim Jong Un Beri Respons
Menurut laporan Axios, pertemuan tersebut membahas konflik dengan Iran. Seorang pejabat AS menyebut Pangeran Khalid menyampaikan pesan dari Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) kepada Trump mengenai perang dengan Iran dan meningkatnya ketegangan di kawasan.
Laporan yang sama juga menyebut pemerintahan Trump pada pekan ini mengundang pejabat senior pertahanan dan intelijen dari Israel serta Arab Saudi ke Washington untuk melakukan konsultasi terkait Iran, di tengah pertimbangan Gedung Putih mengenai kemungkinan langkah militer lebih lanjut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: