Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

ASEAN 'Usik' Nuklir Korea Utara, Adik Kim Jong Un Beri Respons

ASEAN 'Usik' Nuklir Korea Utara, Adik Kim Jong Un Beri Respons Kredit Foto: AP Photo/KCNA
Warta Ekonomi, Jakarta -

Adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong, melontarkan kritik keras terhadap Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) setelah organisasi kawasan itu menyampaikan keprihatinan atas pengembangan program nuklir dan rudal Pyongyang dalam forum regional tahunannya.

Kecaman tersebut disampaikan Kim Yo Jong melalui pernyataan tertulis yang disiarkan kantor berita resmi Korea Utara, KCNA. Ia menilai sikap ASEAN mencerminkan permusuhan terhadap negaranya dan mengikuti narasi yang dibangun Amerika Serikat.

Pernyataan keras Pyongyang muncul sebagai respons atas sikap ASEAN yang kembali menegaskan pentingnya dialog untuk mewujudkan perdamaian berkelanjutan di Semenanjung Korea yang bebas dari senjata nuklir. Dalam pernyataannya, ASEAN juga menyoroti program rudal balistik dan nuklir Korea Utara yang terus berlanjut meski berada di bawah sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menanggapi hal itu, Kim Yo Jong menilai seruan denuklirisasi sudah tidak lagi relevan.

"Merupakan kegagalan dalam pemikiran strategis dan logika serta manifestasi dari mimpi liar yang bodoh dan konyol untuk tetap berpegang pada 'denuklirisasi Semenanjung Korea' yang telah kehilangan maknanya secara konseptual dan praktis," ujar Kim Yo Jong.

Kim Yo Jong juga menegaskan bahwa status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir telah diabadikan dalam konstitusi negara itu sejak 2023. Karena itu, menurutnya, seruan ASEAN bertentangan dengan realitas yang diakui pemerintah Pyongyang.

Selain menolak dorongan denuklirisasi, Kim Yo Jong menuduh ASEAN bertindak sebagai pihak yang mengikuti kepentingan Amerika Serikat.

"Penyalahgunaan sebagai juru bicara bayaran untuk AS," kata Kim Yo Jong dalam pernyataannya.

Pernyataan tersebut kembali menegaskan posisi Korea Utara yang selama beberapa tahun terakhir secara konsisten menyatakan statusnya sebagai negara nuklir tidak dapat diubah.

Baca Juga: KKP Pamerkan Kampung Nelayan Merah Putih Lateng ke Delegasi ASEAN-ID Blue

Sikap itu semakin menguat setelah pertemuan puncak antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2019 berakhir tanpa kesepakatan mengenai denuklirisasi maupun pencabutan sanksi terhadap Pyongyang.

Polemik ini menunjukkan masih tajamnya perbedaan pandangan antara Korea Utara dan negara-negara di kawasan mengenai masa depan Semenanjung Korea. Di satu sisi, ASEAN tetap mendorong penyelesaian melalui dialog dan denuklirisasi, sementara Pyongyang menegaskan bahwa status nuklirnya bukan lagi isu yang dapat dinegosiasikan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat