Senator AS Khawatir China Menang dalam Persaingan AI, Tapi Trump Masih Jumawa
Kredit Foto: Istimewa
Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat memperingatkan bahwa China berpotensi memenangkan persaingan global di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) apabila pembangunan infrastruktur AI di Negeri Paman Sam terus mengalami hambatan.
Peringatan tersebut mengemuka dalam sidang Komite Perdagangan, Sains, dan Transportasi Senat AS pada Kamis (31/7), beberapa hari menjelang tenggat penerbitan kerangka regulasi baru industri AI oleh Gedung Putih.
Ketua komite sekaligus Senator Partai Republik, Ted Cruz, menegaskan bahwa Amerika Serikat tengah bersaing secara strategis dengan China untuk menjadi pemimpin dunia dalam teknologi AI.
"Kemenangan dalam perlombaan ini membutuhkan investasi modal dalam jumlah besar untuk membangun jaringan yang akan mendukung berbagai aplikasi AI di masa depan," kata Cruz dalam sidang tersebut dikutip dari SCMP.
Sidang tersebut berfokus pada dampak perkembangan AI terhadap infrastruktur Amerika Serikat, termasuk kebutuhan akan jaringan internet berkecepatan tinggi dan pusat data yang mampu menopang pertumbuhan teknologi tersebut.
Pusat data dan fasilitas komputasi menjadi salah satu topik utama dalam pembahasan. Infrastruktur tersebut kini dianggap sebagai elemen penting dalam pengembangan AI, baik di Amerika Serikat maupun China.
Namun, ekspansi pusat data di Amerika Serikat menghadapi penolakan dari sejumlah komunitas lokal yang khawatir terhadap tingginya konsumsi listrik dan air, dampak lingkungan, serta minimnya konsultasi publik.
Direktur Kebijakan AI dan Teknologi Vanderbilt Policy Accelerator, Asad Ramzanali, mengatakan pembangunan pusat data di Amerika Serikat saat ini belum memiliki strategi tata kelola yang jelas.
"Pembangunan pusat data saat ini memicu penolakan di berbagai wilayah. Tahun ini saja, puluhan proyek ditunda, ratusan aksi protes digelar, dan ratusan ribu tanda tangan petisi telah dikumpulkan," ujar Ramzanali di hadapan para senator.
Di sisi lain, China terus memperluas infrastruktur komputasi secara nasional. Kota-kota kecil di negara tersebut ikut bersaing dengan pusat-pusat teknologi utama untuk menarik investasi di sektor AI.
Sementara itu, CEO USTelecom Jonathan Spalter mengungkapkan bahwa proyek pembangunan dan modernisasi jaringan internet di Amerika Serikat sering terhambat oleh birokrasi yang rumit.
Menurut Spalter, proyek sederhana seperti penggantian kabel serat optik bahkan dapat tertunda hingga berbulan-bulan akibat proses perizinan.
Ia mengusulkan sejumlah solusi, termasuk pemberian pengecualian khusus bagi proyek broadband dan persetujuan otomatis untuk lokasi yang sebelumnya telah lolos verifikasi.
"Ini adalah solusi yang sederhana dan praktis agar Amerika Serikat bisa terus melaju dan tidak tertinggal dari China," kata Spalter.
Sidang tersebut berlangsung di tengah upaya Washington menyusun regulasi baru untuk mengawasi perkembangan AI tanpa menghambat inovasi dalam negeri.
Gedung Putih diperkirakan akan merilis kerangka kerja sukarela pada 1 Agustus 2026. Aturan itu memungkinkan perusahaan teknologi memberikan akses kepada pemerintah untuk menguji model AI canggih selama maksimal 30 hari sebelum digunakan oleh mitra eksternal tertentu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan jumawa mengatakan pemerintahnya tengah menyiapkan mekanisme pengawasan AI, tetapi tetap berupaya mempertahankan dominasi negaranya atas China.
"Kami sedang melihat AI dan berbagai pengendaliannya, tetapi kami juga memastikan Amerika tetap memimpin. Saat ini kami unggul jauh dari China dalam AI," ujar Trump kepada wartawan, Rabu (30/7).
Trump menilai China memiliki regulasi yang jauh lebih longgar dalam pengembangan AI. Menurutnya, Amerika Serikat harus berhati-hati agar aturan yang diterapkan tidak justru membuat negara itu tertinggal dalam persaingan teknologi global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: