Heboh! Agen FBI Diduga Gondol Kripto Rp18 Miliar, ChatGPT Ikut Terseret
Kredit Foto: Bappebti
Seorang agen senior Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI), Patrick Steven Yarmoch, ditangkap setelah diduga mencuri aset kripto senilai lebih dari US$1 juta atau sekitar Rp18 miliar dari rekening yang terkait dengan penyelidikan terhadap warga negara asing.
Mengutip CoinDesk, Selasa (4/8/2026), Yarmoch merupakan supervisory special agent yang sebelumnya bertugas di kantor pusat FBI di Washington dan memiliki izin keamanan tingkat top secret.
Berdasarkan dokumen yang diajukan ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Timur Virginia pada 1 Agustus 2026, Yarmoch diduga menyalahgunakan akses ke sistem internal FBI untuk memperoleh kunci (crypto keys) aset digital yang disita dalam penyelidikan.
Kunci tersebut kemudian diduga digunakan untuk melakukan hingga belasan kali transfer aset kripto ke dompet digital yang dikendalikannya sendiri.
Dokumen pengadilan menyebut aset digital yang dipindahkan berasal dari akun yang berkaitan dengan seorang warga negara asing yang sebelumnya menjadi objek penyelidikan FBI.
Yarmoch disebut menyerahkan diri kepada rekan-rekannya di FBI setelah mengakui telah mengambil kunci aset kripto dari sistem internal lembaga tersebut.
Sebelum ditangkap pada 31 Juli 2026, ia lebih dulu menjalani skorsing selama beberapa hari. FBI kemudian memecatnya setelah dugaan penyalahgunaan wewenang tersebut terungkap.
Selama bertugas, Yarmoch menangani kasus-kasus kontraintelijen dan spionase. Ia juga pernah bertugas di unit keamanan nasional FBI di Boston yang menangani penyelidikan terhadap negara yang dalam dokumen disebut sebagai adversary nation, meski identitas negara tersebut tidak diungkap.
Penyelidikan juga menemukan bahwa Yarmoch diduga menggunakan sejumlah platform aset digital untuk mengelola dana hasil dugaan pencurian, antara lain bursa kripto Kraken serta protokol keuangan terdesentralisasi (decentralized finance/DeFi) Suilend di jaringan blockchain Sui melalui dompet digital Slush.
Selain dugaan pencurian aset kripto, penyidik menemukan aktivitas lain yang dinilai mencurigakan dari perangkat elektronik miliknya.
Dari hasil pemeriksaan komputer dan telepon genggam, penyidik menemukan riwayat percakapan dengan layanan kecerdasan buatan ChatGPT.
Baca Juga: Bukan Cuma Bitcoin, Ini 10 Kripto dengan Kenaikan Tertinggi Sepanjang Juli 2026
Baca Juga: Pencurian Bitcoin Rp1,6 Triliun Gegerkan Dunia Kripto, Pengguna Coldcard Terancam
Salah satu pertanyaan yang diajukan Yarmoch berbunyi, "If you had around US$1 million and wanted to leave the United States and become a resident or citizen of the European Union, what would you do?" atau "Jika Anda memiliki sekitar US$1 juta dan ingin meninggalkan Amerika Serikat serta menjadi penduduk atau warga negara Uni Eropa, apa yang akan Anda lakukan?"
Menurut dokumen pengadilan, ChatGPT memberikan Portugal sebagai salah satu rekomendasi tujuan.
Penyidik juga menemukan rencana perjalanan Yarmoch bersama keluarganya ke Portugal pada bulan berikutnya. Selain itu, ia diketahui pernah melakukan perjalanan ke Jerman, Portugal, dan Grenada tanpa melaporkannya kepada FBI, yang disebut melanggar ketentuan internal lembaga.
Saat ini, Yarmoch ditahan di Alexandria, Virginia, sembari menunggu proses hukum lebih lanjut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: