Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Mantan Penasihat Polri: Sudah Mulai Kelihatan Konflik Kecil-Kecil di Berbagai Daerah, Biasanya Ketemu Mengerucut dan Baam!

        Mantan Penasihat Polri: Sudah Mulai Kelihatan Konflik Kecil-Kecil di Berbagai Daerah, Biasanya Ketemu Mengerucut dan Baam! Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mantan Penasihat Polri, Profesor Hermawan Sulistiyo, menilai potensi konflik sosial di Indonesia dapat meningkat apabila berbagai persoalan yang dikeluhkan masyarakat terus menumpuk tanpa penyelesaian.

        Pria yang disapa Kikiek itu menilai saat ini kemarahan publik dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kenaikan tarif listrik, beban pajak, hingga persoalan biaya pendidikan. Namun, ia menilai belum ada satu isu dominan yang menjadi pemicu utama keresahan masyarakat.

        "Sekarang pertanyaan publik, kenapa mal dipasang pagar? Orang marah karena listrik naik, pajak, sekolah, tetapi belum ada isu tunggal yang menyatukan semua kemarahan itu," kata Kikiek dalam podcast bersama Mahfud MD.

        Peneliti senior purnatugas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menjelaskan, gejolak yang muncul saat ini masih bersifat lokalistik atau terjadi dalam skala kecil di berbagai daerah.

        Bentuknya dapat berupa tawuran, konflik di jalan raya, hingga bentrokan antarkelompok yang frekuensinya semakin meningkat.

        "Meletupnya masih kecil-kecil. Hari ini senggolan motor di jalan, tawuran, itu terjadi di berbagai tempat di Jalan Tambak Menteng, kemarin di Surabaya. Makin lama, frekuensinya makin tinggi sampai isu-isunya mulai mengerucut dan baam," ujarnya.

        Hermawan mencontohkan, salah satu narasi yang mulai berkembang di masyarakat adalah anggapan bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis ekonomi yang serius alias Indonesia bangkrut.

        Menurutnya, konflik sosial dalam sejarah Indonesia kerap mengalami eskalasi ketika berbagai persoalan bertemu pada momentum tertentu dan memunculkan ledakan sosial yang lebih besar.

        "Di sini sudah mulai kecil-kecil menuju ke sana. Lalu sampai tingkat yang tidak bisa ditahan dan meledak seperti 1998, kapan itu terjadi? Selama simpul-simpul persoalan ini bertemu, karena orang masih melihat 17 Agustus itu sakral, biasanya selesai Agustusan," katanya.

        Hermawan menambahkan, dalam sejarah Indonesia, berbagai kerusuhan besar umumnya dipicu oleh akumulasi persoalan ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi dalam waktu bersamaan.

        Ia juga menyoroti fenomena pemasangan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan yang mulai memasang pagar tinggi mengantisipasi kerusuhan, menurutnya, itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran sebagian pelaku usaha terhadap situasi sosial di masa depan.

        "Pemilik mal mulai ketakutan, sekarang dipagari semua, bahkan sudah ada yang kabur ke luar negeri," ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: