Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Soal Akuisisi Tambang Australia, Ini Penjelasan Bumi Resources (BUMI)

        Soal Akuisisi Tambang Australia, Ini Penjelasan Bumi Resources (BUMI) Kredit Foto: Djati Waluyo
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memberikan perkembangan terbaru terkait rencana akuisisi perusahaan tambang asal Australia, Loyal Metals Limited. Perseroan menegaskan proses transaksi masih berada pada tahap awal dan belum memasuki tahap penyelesaian.

        Direktur BUMI, R.A. Sri Dharmayanti, menjelaskan bahwa BUMI dan Loyal Metals telah menandatangani Scheme Implementation Deed (SID), yang menjadi dasar atau kerangka kerja pelaksanaan akuisisi.

        Namun, hingga saat ini proses akuisisi masih dalam tahap pemenuhan berbagai persyaratan sehingga belum ada pengalihan saham maupun dana.

        "Hingga saat ini, proses akuisisi masih berada pada tahap pemenuhan persyaratan. Oleh karena itu, belum terjadi pengalihan dana maupun saham," ujar Sri Dharmayanti dalam keterbukaan informasi BEI, seperti dikutip Rabu (5/8/2026).

        Ia menjelaskan, penyelesaian transaksi masih bergantung pada sejumlah conditions precedent atau persyaratan pendahuluan. Di antaranya adalah persetujuan dari para pemegang saham Loyal Metals serta terpenuhinya seluruh ketentuan dan proses hukum yang berlaku di Australia.

        Dia menegaskan, selama seluruh persyaratan tersebut belum dipenuhi, proses akuisisi belum dapat dinyatakan efektif maupun selesai.

        "Selama seluruh persyaratan pendahuluan belum terpenuhi, transaksi akuisisi belum dapat diselesaikan," jelas Sri Dharmayanti.

        Dengan demikian, rencana ekspansi BUMI melalui akuisisi perusahaan tambang di Australia masih menunggu persetujuan dan penyelesaian proses regulasi sebelum dapat direalisasikan.

        Laba Bersih BUMI di Semester I

        BUMI mencetak laba bersih sebesar US$58,85 juta atau sekitar Rp1,06 triliun pada semester I-2026, melonjak 188,48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$20,40 juta.

        Laba yang naik dikarenakan pendapatan emiten tambang batu bara ini melonjak tajam, dari US$677,93 juta menjadi US$866,75 juta.

        Kenaikan pendapatan tersebut mampu mengimbangi peningkatan beban pokok pendapatan dan beban usaha yang sejalan dengan bertambahnya aktivitas operasional perusahaan.

        Baca Juga: Pendapatan Naik, Laba BUMI Tembus Rp1 Triliun di Semester I-2026

        Baca Juga: Aguan Makin Tajir? Laba PANI Tembus Rp1,7 Triliun dalam Enam Bulan

        Baca Juga: Kredit Perbankan Tembus Rp9.080 Triliun, OJK: Investasi Jadi Motor Utama

        BUMI juga membukukan laba sebelum pajak sebesar US$104,32 juta, hampir dua kali lipat dibandingkan semester I-2025 yang sebesar US$51,52 juta.

        Selain ditopang pertumbuhan pendapatan, perbaikan kinerja juga didukung peningkatan kontribusi dari entitas asosiasi dan ventura bersama.  Penghasilan dari pos tersebut melonjak menjadi US$43,85 juta, dari US$15,85 juta pada periode yang sama tahun lalu.

        Meski mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan, arus kas operasional perseroan masih mengalami tekanan.

        BUMI membukukan kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar US$64,83 juta, meningkat lebih dari enam kali lipat dibandingkan arus kas keluar sebesar US$8,84 juta pada semester I-2025.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: