Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Hybrid Masih Jadi Pilihan Paling Realistis bagi Konsumen Indonesia

        Hybrid Masih Jadi Pilihan Paling Realistis bagi Konsumen Indonesia Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perdebatan mengenai masa depan kendaraan elektrifikasi di Indonesia masih sering berpusat pada satu pertanyaan: apakah masyarakat sudah siap beralih sepenuhnya ke mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV)?

        Namun, pandangan tersebut dinilai terlalu menyederhanakan kondisi pasar. Kenyataannya, kebutuhan konsumen Indonesia sangat beragam sehingga tidak ada satu teknologi elektrifikasi yang bisa menjadi solusi untuk semua.

        Hal itu disampaikan Deputy Chief Representative Indonesia Changan Auto South East Asia, Arie Hermawan, dalam dialog otomotif Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.

        Menurut Arie, setiap teknologi elektrifikasi memiliki karakter pengguna yang berbeda. Karena itu, transisi menuju kendaraan rendah emisi sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan menyediakan beragam pilihan teknologi, mulai dari hybrid (HEV), plug-in hybrid (PHEV), range extended electric vehicle (REEV), hingga battery electric vehicle (BEV).

        "Dari sisi konsumen, tidak semua orang memiliki kebutuhan mobilitas yang sama. Karena itu, teknologi elektrifikasi juga tidak bisa disamaratakan," ujarnya di Tangerang, Rabu (5/8/2026).

        Dalam presentasinya, Changan menilai hybrid atau Hybrid Electric Vehicle (HEV) masih menjadi teknologi yang paling mudah diterima masyarakat Indonesia saat ini. Alasannya sederhana, pengguna tidak perlu mengubah kebiasaan berkendara maupun mencari fasilitas pengisian daya seperti pada mobil listrik murni.

        Teknologi hybrid juga dinilai mampu memberikan penghematan biaya operasional sekaligus menawarkan efisiensi bahan bakar yang tinggi. Changan bahkan mengklaim konsumsi BBM kendaraan hybrid modern dapat mencapai sekitar 33 kilometer per liter, sehingga cocok digunakan sebagai kendaraan harian di kawasan perkotaan.

        Berbeda dengan BEV yang membutuhkan perubahan gaya hidup, mobil hybrid tetap menggunakan mesin bensin sebagai sumber tenaga sehingga pengisian energi dilakukan secara otomatis ketika kendaraan berjalan. Kondisi ini membuat konsumen tidak perlu memikirkan lokasi stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) atau waktu tambahan untuk mengisi baterai.

        Selain hybrid, Changan juga menilai teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dan Range Extended Electric Vehicle (REEV) dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin merasakan sensasi berkendara mobil listrik tanpa sepenuhnya bergantung pada baterai.

        Pada kendaraan PHEV, pengguna tetap dapat mengisi daya baterai dari luar, tetapi masih memiliki mesin bensin sebagai cadangan ketika daya baterai habis. Sementara REEV menawarkan pengalaman berkendara layaknya mobil listrik, namun mesin bensin hanya berfungsi sebagai generator untuk menghasilkan listrik sehingga mampu mengurangi kekhawatiran terhadap keterbatasan jarak tempuh atau range anxiety.

        Baca Juga: Purbaya Bocorkan Insentif Kendaraan Listrik Segera Meluncur, Diumumkan 1-2 Pekan Lagi

        Baca Juga: Kendaraan EV LFP Gempur Pasar RI, Bahlil Sebut Baterai Nikel Masih Unggul

        Sementara itu, mobil listrik berbasis baterai atau BEV dinilai lebih sesuai untuk pengguna yang memiliki mobilitas di dalam kota, menginginkan biaya operasional rendah, serta memiliki akses yang memadai terhadap infrastruktur pengisian daya.

        Melihat kondisi tersebut, Changan menilai perkembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia seharusnya tidak diarahkan pada persaingan antara hybrid dan mobil listrik murni. Sebaliknya, setiap teknologi memiliki ruang pasar tersendiri yang dapat saling melengkapi sesuai karakter dan kebutuhan konsumen.

        Pendekatan itu pula yang menjadi dasar strategi Changan di Indonesia. Hingga 2028, pabrikan asal China tersebut berencana menghadirkan 15 model baru dengan beragam pilihan sistem penggerak, mulai dari mesin konvensional (ICE), hybrid (HEV), plug-in hybrid (PHEV), range extender (REEV), hingga battery electric vehicle (BEV).

        Dengan kata lain, arah elektrifikasi di Indonesia kemungkinan tidak akan ditentukan oleh satu teknologi saja. Setidaknya untuk beberapa tahun ke depan, pasar masih membutuhkan beragam pilihan kendaraan agar proses transisi menuju mobilitas rendah emisi dapat berlangsung secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: