Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Putin Guncang Kyiv, Ukraina Klaim Rusia Kehilangan 30.000 Personel pada Juli

        Putin Guncang Kyiv, Ukraina Klaim Rusia Kehilangan 30.000 Personel pada Juli Kredit Foto: BBC
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rangkaian serangan drone dan rudal balistik Rusia mengguncang wilayah Kyiv dan sekitarnya pada malam hari, menewaskan sedikitnya 15 orang serta melukai 51 lainnya. Ledakan terjadi di tujuh distrik yang memicu kebakaran besar di fasilitas logistik dan kawasan permukiman.

        Petugas penyelamat masih melakukan evakuasi di sejumlah lokasi terdampak. Tim penyelamat dilaporkan berhasil mengeluarkan dua korban selamat dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan tersebut.

        Selain menghantam ibu kota Ukraina, gelombang serangan udara Rusia juga merusakkan tiga kapal di Odesa dan menargetkan Rumah Sakit Regional Anak di Zaporiyia. Seluruh pasien dan tenaga medis di rumah sakit tersebut dilaporkan selamat tanpa korban jiwa.

        Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan sasaran serangan udara itu merupakan pusat-pusat logistik yang diklaim digunakan untuk penyimpanan dan pasokan senjata, serta area produksi dan distribusi drone.

        Serangan tersebut terjadi sehari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan operasi baru ke wilayah Rusia. Langkah itu menyusul kampanye militer selama 40 hari yang menargetkan pusat logistik dan kilang minyak Rusia sejak 25 Juni.

        Sebagai balasan, militer Ukraina mengklaim berhasil menghantam gudang besar milik perusahaan Wildberry di kota Tula, Rusia. Di tengah meningkatnya intensitas pertempuran, pemerintah Ukraina juga merilis estimasi terbaru mengenai kerugian personel Rusia sepanjang Juli.

        Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan laporan intelijen dan Kementerian Pertahanan menunjukkan Rusia kehilangan sekitar 30.000 personel dalam satu bulan.

        "Moscú lost 30.000 soldiers, dead or seriously injured in July," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

        Menurut laporan keamanan internal Ukraina, angka tersebut mencakup prajurit Rusia yang tewas maupun mengalami luka berat di sepanjang garis depan pertempuran selama Juli.

        Di sisi lain, Uni Eropa bersama para mitranya menyatakan akan meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui sanksi baru dan penguatan dukungan militer bagi Ukraina. Langkah itu diumumkan menyusul serangan rudal dan drone Rusia yang menewaskan sedikitnya 17 orang di wilayah Kyiv.

        Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam serangan tersebut dan menegaskan komitmen negara-negara Barat untuk terus mendukung Ukraina.

        "Kebijakan teror ini, yang dilakukan dengan serangan rudal dan drone, tidak dapat diterima," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron.

        Baca Juga: Telegram Kerap Digunakan Ukraina, Pavel Durov Diburu Rusia

        Macron menegaskan bahwa sanksi dan bantuan militer akan terus diperkuat agar Ukraina mampu mempertahankan diri dan melindungi warganya dari agresi yang berlanjut.

        "Setiap serangan baru memperkuat bukti: Rusia harus membayar harga atas agresinya dan bertanggung jawab atas kejahatannya," ujar Macron.

        Ia juga memastikan sikap negara-negara sekutu tidak akan berubah meski konflik terus berlangsung.

        "Bersama Ukraina, kami tidak akan menyerah pada kelelahan maupun intimidasi," kata Macron.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: