'Suplai Energi Hambalang Tak Lagi Terasa', Kontrak Politik Prabowo-Jokowi Sudah Habis?
Kredit Foto: Istimewa
Hubungan politik antara Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto belakangan kembali menjadi sorotan. Di tengah meningkatnya aktivitas politik Jokowi di sejumlah daerah, muncul penilaian bahwa 'kontrak politik' antara kedua poros tersebut tidak lagi berjalan seperti yang sebelumnya diharapkan.
Pengamat politik Rocky Gerung melihat manuver Jokowi tersebut bukan sekadar rangkaian kunjungan biasa. Ia menilai aktivitas mantan presiden itu dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun konsolidasi politik secara mandiri.
Dalam pandangannya, keberadaan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden menjadi salah satu faktor penting bagi Jokowi. Rocky bahkan menyebut posisi Gibran sebagai "satu-satunya perisai" bagi berbagai kepentingan politik Jokowi di masa mendatang.
Namun, Rocky melihat ada persoalan yang mendasari munculnya manuver tersebut. Ia menilai dukungan politik yang sebelumnya diharapkan datang dari kubu Prabowo di Hambalang belum sepenuhnya dirasakan oleh kubu Jokowi di Solo.
Baca Juga: Teriakan 'Hidup Jokowi' Hanya Tipu Daya? Prabowo Disebut Galau soal Hubungan dengan Geng Solo
"Suplai energi dari Hambalang tidak dirasakan impact-nya di Solo. Karena itu, Solo membangun pusat energi sendiri," katanya Rocky, dikutip dari tayangan YouTube Total Politik, Minggu (9/8/2026).
Rocky menjelaskan, sejak awal terbentuknya koalisi terdapat kepercayaan tidak tertulis bahwa kubu Prabowo akan terus memberikan energi politik sekaligus menjadi pelindung bagi posisi politik Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Akan tetapi, ekspektasi tersebut dinilai belum sepenuhnya terwujud. Kondisi ini kemudian membuat kedua kubu seolah berada dalam posisi menunggu titik temu, sementara komunikasi di tingkat elite disebut tidak berjalan secara efektif.
Rocky bahkan menggambarkan situasi tersebut dengan sebuah analogi yang cukup tajam. "Surat sudah dikirim, tukang posnya yang nggak nyampein," ujarnya.
Olehnya itu, aktivitas Jokowi ke sejumlah daerah dinilai Rocky menjadi sinyal bahwa kubu Solo tidak ingin hanya menunggu perkembangan politik dari kubu Hambalang. Konsolidasi secara mandiri disebut menjadi cara untuk mempertahankan pengaruh politik sekaligus menjaga kepentingan keluarga.
Baca Juga: Said Didu soal Skripsi Jokowi Dispesialkan UGM: Semuanya Akan Terbuka
Terlebih, Rocky melihat kubu Hambalang mulai mengambil sikap yang lebih kalkulatif. Menurutnya, elite di sekitar Prabowo semakin menyadari bahwa opini publik memiliki pengaruh besar terhadap arah politik pemerintahan.
Kesadaran terhadap sorotan publik yang kritis tersebut membuat kubu Prabowo dinilai lebih berhati-hati dalam menentukan langkah. Mereka disebut mulai menghitung setiap figur dan narasi yang berpotensi memengaruhi tingkat penerimaan masyarakat terhadap pemerintahan.
Dengan demikian, manuver politik Jokowi dan sikap kubu Prabowo yang dinilai semakin kalkulatif menjadi gambaran adanya perubahan dinamika di antara dua poros tersebut.
Jika sebelumnya hubungan politik keduanya kerap dipandang sebagai satu kesatuan kekuatan, kini muncul penilaian bahwa masing-masing kubu mulai menghitung kepentingannya sendiri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: