Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Menko Airlangga Bongkar VOC Jadi Perusahaan Pertama di Bursa RI yang Bernilai Rp124 Ribu Triliun

        Menko Airlangga Bongkar VOC Jadi Perusahaan Pertama di Bursa RI yang Bernilai Rp124 Ribu Triliun Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap fakta menarik mengenai sejarah pasar modal dunia. Ia menyebut Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai perusahaan publik pertama di dunia yang memiliki skala usaha dan nilai ekonomi sangat besar.

        Ia mengungkapkan VOC merupakan perusahaan asal Belanda yang menjalankan bisnis perdagangan di kawasan Asia. Kegiatan usahanya mencakup perdagangan berbagai komoditas hingga sektor pelayaran.

        Sejarah VOC juga tidak terlepas dari perjalanan pasar modal Indonesia. Airlangga menjelaskan, aktivitas bursa di Indonesia telah berlangsung sejak era kolonial Belanda, sebelum pasar modal kembali diaktifkan oleh Presiden Soeharto pada 1977.

        "Kalau kita lihat berdasarkan sejarah, bursa kita kan pertama kali oleh Belanda ya, kemudian Pak Harto membuka kembali tahun 1977. Nah kalau kita ingat VOC itu adalah the first public listed company di dunia dan bidang usahanya adalah komoditas, ASEAN komoditas, shipping," ujar Airlangga, dalam acara peringatan 49 tahun pengaktifan kembali Pasar Modal Indonesia yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (10/8/2026).

        Airlangga memberikan gambaran mengenai seberapa besar nilai VOC apabila perusahaan tersebut dinilai menggunakan standar kapitalisasi pasar masa kini.

        Ia memperkirakan nilai VOC dapat berada di kisaran US$7 triliun hingga US$8 triliun. Dengan menggunakan asumsi kurs Rp17.819 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp124.733 triliun.

        Besarnya estimasi tersebut tidak terlepas dari luasnya aktivitas perdagangan VOC selama berabad-abad, termasuk perdagangan berbagai komoditas yang berasal dari wilayah Indonesia.

        "Kemudian saya lihat market cap-nya kalau per hari ini atau dinilai dengan hari ini, market cap-nya US$7 triliun sampai US$8 triliun. Jadi bahkan dengan today value pun tinggi. Artinya itu juga beberapa based on Indonesia commodity selama tiga abad," ucap Airlangga.

        Baca Juga: Ditunggu 15 Tahun, ETF Emas Akhirnya Resmi Melantai di BEI

        Baca Juga: OJK Minta Multifinance Lirik Ladang Bisnis Haji-Umrah Senilai Rp78 Triliun

        Baca Juga: Airlangga Genjot Data Center, AI, dan Semikonduktor demi Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%

        Tak hanya soal nilai perusahaan, Airlangga turut menyoroti pengaruh perdagangan VOC terhadap perekonomian Belanda. 

        Dia menyebut Belanda pernah berada di posisi teratas dalam hal PDB per kapita selama beberapa periode pada abad ke-16 hingga abad ke-19.

        "Kita mencatat dari abad 16, 17, 18, 19 GDP per kapita tertinggi ada di Belanda," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: