Kredit Foto: Pixabay
Prudential Indonesia tetap menempatkan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai bagian penting dalam portofolio investasinya di tengah kebijakan penahanan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Perseroan mengatakan bahwa strategi investasi tetap mengutamakan kehati-hatian, diversifikasi, dan orientasi jangka panjang.
Chief Financial Officer Prudential Indonesia Adit Trivedi mengatakan pergerakan suku bunga menjadi salah satu faktor yang terus dipantau perusahaan karena berpengaruh terhadap valuasi pasar pendapatan tetap, peluang investasi kembali, dan kinerja portofolio secara keseluruhan.
“Pergerakan suku bunga merupakan salah satu faktor penting yang terus kami pantau karena memengaruhi valuasi pasar pendapatan tetap, peluang reinvestasi, dan kinerja portofolio secara keseluruhan," ujarnya kepada Warta Ekonomi, Selasa (11/8/2026).
Dalam mengelola investasi, prudential Indonesia tidak cuma mengandalkan satu aset saja tapi menerapkan diversifikasi di berbagai kelas aset dan pasar dengan dukungan manajemen risiko serta pemantauan terhadap kondisi makroekonomi dan pasar.
“Di Prudential Indonesia, pendekatan investasi kami tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, disiplin, dan fokus kepada jangka panjang. Prioritas utama kami adalah menjaga ketahanan portofolio sambil menangkap peluang pertumbuhan yang berkelanjutan bagi nasabah," tuturnya.
Dengan strategi tersebut, perusahaan bisa menyesuaikan portofolio dengan perubahan kondisi pasar. Selain itu, Prudential juga tetap mempertimbangkan perkembangan suku bunga dan faktor makroekonomi lainnya di setiap keputusan investasi.
“Kami terus melakukan diversifikasi di berbagai kelas aset dan pasar, didukung oleh manajemen risiko yang disiplin serta pemantauan yang cermat terhadap perkembangan makroekonomi, suku bunga, dan kondisi pasar. Hal ini memungkinkan kami untuk tetap adaptif di tengah dinamika pasar yang terus berubah," ungkapnya.
Ke depan, SBN tetap memiliki posisi penting dalam strategi tersebut sebagai salah satu instrumen pendapatan tetap. Namun, perusahaan belum menyatakan akan ada target penambahan porsi SBN secara spesifik.
“Setiap penyesuaian portofolio, termasuk perubahan eksposur terhadap SBN, akan dilakukan secara hati-hati berdasarkan kondisi pasar serta komitmen kami untuk memberikan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi nasabah," pungkasnya.
Seperti yang diketahui, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 21-22 Juli 2026.
Selain mempertahankan BI Rate, bank sentral juga menahan suku bunga Deposit Facility di level 4,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 dan 22 Juli 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan Suku bunga Landing Facility sebesar 6,5%,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers secara virtual, Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: