Kredit Foto: Istimewa
Uni Eropa (UE) menawarkan dukungan teknologi satelit untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan korban gempa besar yang mengguncang Indonesia. Sistem observasi Bumi Copernicus disiapkan untuk membantu tim di lapangan memetakan wilayah terdampak dan mempercepat penanganan bencana.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyampaikan kesiapan tersebut melalui media sosial X, Sabtu. Ia menyebut Copernicus sebagai "mata kami di langit" yang dapat dikerahkan untuk mendukung upaya pencarian dan penyelamatan di Indonesia.
"Dari solidaritas menjadi tindakan, Eropa senantiasa siap mengerahkan Copernicus, mata kami di langit, untuk mendukung upaya pencarian dan penyelamatan. Indonesia, kami berdiri bersamamu," kata Von der Leyen.
Tawaran tersebut muncul setelah gempa besar bermagnitudo 7,7 mengguncang pesisir timur Indonesia pada Jumat malam (14/8). Bencana tersebut menimbulkan korban jiwa, sementara proses pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung.
Menurut laporan dinas penyelamatan, sedikitnya 20 orang meninggal dunia akibat gempa. Puluhan orang lainnya mengalami luka-luka dan petugas masih melakukan evakuasi terhadap korban yang diduga tertimbun reruntuhan.
Penanganan di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Longsor, kerusakan infrastruktur, serta gangguan komunikasi dilaporkan membuat akses menuju sejumlah lokasi terdampak menjadi lebih sulit.
Kondisi tersebut membuat pemetaan wilayah terdampak menjadi bagian penting dalam proses tanggap darurat. Tim penyelamat membutuhkan informasi mengenai lokasi kerusakan, akses yang masih dapat dilalui, hingga wilayah yang membutuhkan penanganan paling cepat.
Di sinilah teknologi Copernicus dapat berperan. Sistem observasi Bumi milik Uni Eropa tersebut menyediakan data satelit yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pemetaan cepat ketika terjadi bencana.
Data tersebut dapat membantu memberikan gambaran mengenai perubahan kondisi wilayah setelah bencana terjadi. Informasi dari pengamatan satelit juga dapat digunakan sebagai salah satu bahan pendukung bagi tim di lapangan dalam menentukan lokasi yang membutuhkan pencarian dan penyelamatan.
Tawaran bantuan dari Uni Eropa menjadi bentuk dukungan internasional di tengah proses penanganan gempa yang masih berlangsung. Teknologi pengamatan dari udara dapat membantu melengkapi informasi yang diperoleh petugas yang bekerja langsung di lokasi bencana.
Baca Juga: Prabowo Kerahkan Menteri hingga BUMN Tangani Gempa NTT, 50 Ribu Paket Sembako Dikirim
Selain kerusakan bangunan, ancaman longsor dan terputusnya akses darat menjadi tantangan tersendiri bagi proses evakuasi. Dalam situasi seperti itu, informasi spasial dari satelit dapat membantu petugas memperoleh gambaran wilayah tanpa harus terlebih dahulu menjangkau seluruh lokasi secara langsung.
Gempa tersebut juga sempat memicu tsunami kecil dengan ketinggian di bawah satu meter. Otoritas setempat sebelumnya menerbitkan peringatan tsunami, tetapi peringatan tersebut kemudian dicabut.
Dengan kondisi lapangan yang masih dinamis, dukungan teknologi menjadi salah satu faktor yang dapat membantu mempercepat pemetaan dan koordinasi operasi tanggap darurat. Copernicus pun ditawarkan UE sebagai salah satu instrumen untuk membantu Indonesia menghadapi dampak gempa tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: