Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ditekan Oknum Pajak, Ahok Ungkap Pamannya Meninggal

        Ditekan Oknum Pajak, Ahok Ungkap Pamannya Meninggal Kredit Foto: Twitter/Niluh Djelantik
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengungkap pengalaman traumatis keluarganya yang berkaitan dengan perlakuan oknum petugas pajak. Ia menyebut pamannya meninggal dunia setelah mengalami tekanan berat akibat persoalan pajak.

        Hal itu disampaikan Ahok saat berbincang dengan akademisi Rhenald Kasali dalam program Cafe Berisi yang ditayangkan di kanal YouTube Rhenald Kasali, Jumat (14/8/2026). Dalam perbincangan tersebut, Ahok membahas iklim usaha dan kebijakan perpajakan di Indonesia.

        Ahok menceritakan, pamannya yang bekerja di sektor pertambangan timah pernah menghadapi tekanan pajak akibat sistem official assessment pada masa lalu. Menurut Ahok, target penerimaan pajak kala itu dapat dinaikkan secara sepihak tanpa mempertimbangkan kondisi usaha dan pendapatan yang sebenarnya.

        "Om saya itu meninggal kena stroke gara-gara ditekan pajak," kata Ahok.

        Ia mengatakan, target pajak dapat dinaikkan 10-20 persen untuk tahun berikutnya. Padahal, menurut dia, hasil usaha seperti pertambangan timah tidak selalu sama setiap tahun.

        "Kan prinsip orang pajak (saat itu) enggak mau pusing. Pokoknya kalau target tahun depan, ya naikin saja 10-20 persen pakai Excel. Tahun depan belum tentu dia dapat timah yang sama kan, nah dipaksa bayar," ujarnya.

        Tekanan tersebut, kata Ahok, semakin berat karena pamannya juga memiliki kewajiban pembayaran pinjaman untuk leasing alat berat. Pada saat yang sama, suku bunga pinjaman disebut melonjak hingga 60-70 persen.

        Kondisi itu membuat pamannya berada dalam tekanan finansial dan mengalami stres berat. Ahok kemudian mengaitkan tekanan tersebut dengan kondisi kesehatan pamannya hingga akhirnya meninggal dunia.

        "Stres, stroke, sampai meninggal sakit. Dikejarin, datang," tutur Ahok.

        Pengalaman tersebut turut memengaruhi sikap Ahok ketika berhadapan dengan aparat atau pejabat yang dinilainya menggunakan kewenangan secara semena-mena.

        Ahok juga menceritakan pengalamannya saat masih menjalankan bisnis alat berat. Ketika itu, ia mengaku pernah didatangi oknum yang mengancam akan menyita alat berat miliknya dengan alasan persoalan pajak.

        Alih-alih mengikuti ancaman tersebut, Ahok memilih melawan. Ia bahkan mengaku telah meminta pegawainya bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika oknum tersebut tetap memaksakan kehendaknya.

        "Jangan sombong ya. Aku juga bilang lu juga jangan sombong, lu mau mati di kampung gua? Saya waktu itu snew (marah) saja. Sama pegawai-pegawai gua sudah siapin pentungan juga. Lu kalau nekat, kita juga nekat," ujarnya.

        Meski memiliki pengalaman buruk terkait perlakuan oknum pajak, Ahok mengatakan dirinya tetap berupaya memenuhi kewajiban sebagai warga negara. Ia mengaku menyisihkan dana dari penghasilannya secara khusus agar kewajiban pajak tidak menunggak.

        Baca Juga: Ditolak Jokowi, Ahok Ungkap Dirinya Hanya 'Kartu Mati' untuk Singkirkan Sandiaga di Pilkada DKI 2012

        Ahok juga meminta petugas pajak mengedepankan pendekatan edukatif dan tidak menggunakan intimidasi kepada wajib pajak. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika kondisi ekonomi sedang sulit dan banyak pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja.

        Ia menilai pemerintah perlu meningkatkan transparansi dalam penggunaan anggaran. Menurut Ahok, masyarakat akan lebih mudah menerima kewajiban membayar pajak apabila dapat melihat secara jelas bahwa uang yang dikumpulkan negara benar-benar digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

        Ahok meyakini kepatuhan masyarakat terhadap pajak akan tumbuh apabila pemerintah mampu menunjukkan penggunaan anggaran secara terbuka serta memastikan dana publik tidak disalahgunakan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: