Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ahok Ceritakan Alasan Terjun ke Politik, 'Orang Kaya Tidak Akan Pernah Bisa Lawan Pejabat'

        Ahok Ceritakan Alasan Terjun ke Politik, 'Orang Kaya Tidak Akan Pernah Bisa Lawan Pejabat' Kredit Foto: Youtube/Basuki Tjahaja Purnama
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengungkap alasan yang mendorongnya terjun ke dunia politik. Menurut Ahok, keputusan tersebut tidak semata-mata didorong ambisi mengejar kekuasaan, melainkan berangkat dari nasihat sang ayah dan pengalaman menghadapi tekanan oknum pejabat.

        Hal itu disampaikan Ahok saat berbincang dengan akademisi Rhenald Kasali dalam program Cafe Berisi yang tayang di kanal YouTube Rhenald Kasali, Jumat (14/8/2026).

        Ahok menceritakan, sebelum terjun ke politik, dirinya lebih dulu menekuni dunia usaha. Saat berhasil membangun pabrik, ia merasa telah memberikan kontribusi dengan menggaji karyawan secara layak dan menyediakan asuransi.

        Namun, Ahok mengaku saat itu tidak tertarik masuk ke dunia politik yang dinilainya penuh persoalan. Pandangan tersebut kemudian ditantang oleh sang ayah melalui sebuah pertanyaan mengenai seberapa besar kontribusi yang bisa diberikan seorang pengusaha hanya dengan mengandalkan kekayaan pribadi.

        "Kamu kalau jadi orang kaya, mau enggak tiap bulan kasih Rp 1 miliar bantu orang miskin? Kalau anggap Rp 1 miliar kamu bantu orang, waktu itu UMP cuma Rp 500.000, kamu cuma bisa bantu 2.000 keluarga. Uangmu habis," kata Ahok menirukan ucapan ayahnya.

        Menurut Ahok, ayahnya kemudian menjelaskan bahwa menjadi pejabat memungkinkan seseorang membuat kebijakan yang berdampak lebih luas. Dengan kebijakan yang tepat, pemerintah dapat menciptakan kondisi agar masyarakat memiliki penghasilan dan kesejahteraan yang lebih baik.

        Nasihat sang ayah tidak berhenti pada persoalan kemampuan finansial. Ia juga mengingatkan Ahok mengenai ketimpangan posisi antara masyarakat, pengusaha, dan pejabat.

        Ahok mengatakan ayahnya mengutip sebuah pepatah Tiongkok kuno mengenai relasi antara orang miskin, orang kaya, dan pejabat.

        "Bapak saya bilang, 'Lu lupa pepatah Tiongkok kuno. Orang miskin enggak bisa lawan orang kaya. Orang kaya jangan nantang pejabat, bang. Lu kalau mau bantu orang miskin (dan) nantang pejabat, jadi pejabat lu!'" ujar Ahok.

        Nasihat tersebut kemudian dirasakan Ahok secara langsung ketika menjalankan usaha.

        Pada 2003, pabrik yang dibangunnya ditutup setelah dirinya menghadapi tekanan dari oknum pejabat yang disebutnya korup. Ahok mengatakan penutupan tersebut bukan disebabkan oleh kebangkrutan usaha.

        Pengalaman itu membuat Ahok menyadari keterbatasan seorang pengusaha ketika berhadapan dengan kekuasaan birokrasi. Ia mengaku sempat terpancing emosi terhadap oknum pejabat tersebut.

        Namun, Ahok kemudian melihat bahwa kekayaan yang dimilikinya tidak otomatis membuatnya memiliki kekuatan untuk menghadapi aparatur negara.

        Peristiwa tersebut menjadi titik balik bagi Ahok. Petuah sang ayah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai nasihat kemudian ia lihat sebagai gambaran nyata mengenai hubungan antara kekayaan dan kekuasaan.

        "Aku pikir masuk akal juga, jadi pejabat baru bisa nolong orang miskin dan (orang) yang membutuhkan bantuan," kata Ahok.

        Baca Juga: Ditekan Oknum Pajak, Ahok Ungkap Pamannya Meninggal

        Dari pengalaman tersebut, Ahok akhirnya memutuskan masuk ke dunia politik. Ia menilai kekayaan pribadi memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan kebijakan dan kewenangan pemerintah.

        Bagi Ahok, terjun ke politik menjadi cara untuk memiliki kewenangan dalam membuat kebijakan sekaligus memperjuangkan kepentingan masyarakat yang membutuhkan bantuan.

        Pengalaman sebagai pengusaha dan tekanan yang pernah dihadapinya kemudian menjadi salah satu latar belakang yang membentuk pandangannya mengenai pentingnya kekuasaan digunakan untuk melindungi masyarakat, bukan untuk menekan mereka.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: