Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        50 Buku Sehari Tak Bisa Membuat Prabowo Kalahkan Jokowi: Pidatonya Bisa Lebih Jaga Perasaan Rakyat

        50 Buku Sehari Tak Bisa Membuat Prabowo Kalahkan Jokowi: Pidatonya Bisa Lebih Jaga Perasaan Rakyat Kredit Foto: Tangkapan layar Youtube TV Parlemen
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago membandingkan sikap dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto. Mantan presiden itu dinilai mampu menjaga perasaan rakyat dalam setiap pidatonya di Indonesia.

        Menurut Pangi, Jokowi dinilai lebih mampu menjaga perasaan rakyat ketimbang Prabowo. Padahal presiden saat ini dikenal memiliki kebiasaan membaca buku dalam jumlah sangat banyak. Ia menilai persoalan utama bukan pada kemampuan intelektual seorang presiden, melainkan bagaimana pengetahuan dan wawasan tersebut diterjemahkan ketika berbicara kepada masyarakat.

        Baca Juga: Kondisi Terbaru Maba Unpad usai Kena Sinis Dedi Mulyadi: Drop hingga Tak Semangat Kuliah

        “Jadi bagaimana mungkin seorang presiden yang bacaannya 50 buku per hari, yang sering keluar negeri beli buku, rajin baca, tapi pidatonya tak mencerminkan orang yang intelektual,” kata Pangi dalam kanal YouTube Refly Harun, dikutip Selasa (18/8/2026).

        Menurut Pangi, seorang pemimpin dengan wawasan luas semestinya memiliki kemampuan untuk memilih cara komunikasi yang tepat, terutama ketika menyampaikan pesan di hadapan rakyat.

        Namun, ia justru melihat sejumlah gestur presiden sebagai sesuatu yang tidak mencerminkan kewibawaan seorang presiden. Salah satunya ketika presiden dianggap melakukan gerakan yang terlihat seperti mengejek rakyat.

        “Ngeledek-ngeledek rakyat gitu. Apa ya istilahnya. Meledek-ledek itu artinya seperti ngejek gitu dengan gerakan gestur nyenye-nyenye, dengan gerakan wajah seperti itu, seperti bukan seorang presiden,” ujar Pangi.

        “Gimana wibawanya,” sambungnya.

        Pangi juga menyoroti momen ketika presiden terlihat menjulurkan lidah. Menurut dia, gestur tersebut membuat publik bertanya-tanya mengenai gaya komunikasi kepala negara.

        “Sementara kalau kita lihat yang mengejek tadi dengan gerakan lidah manyun menjulur itu misalnya, kita kaget. Kok bisa begini,” katanya.

        Pangi dalam hal ini membawa nama Jokowi. Ia menilai mantan presiden tersebut lebih mampu memahami perasaan masyarakat melalui pidatonya.

        Pangi bahkan menggunakan perbandingan yang cukup menyengat dengan menyebut kebiasaan membaca komik yang diasosiasikannya dengan Jokowi.

        “Ketika beliau baca 50 buku, kok seolah-olah pidatonya Pak Jokowi dianggap lebih bisa jaga perasaan rakyat gitu, yang bacaannya cuma komik Doraemon sama Sinchan kan bacaannya,” tutur Pangi.

        Menurutnya, kemampuan menjaga perasaan masyarakat merupakan bagian penting dari komunikasi seorang presiden. Sebab, seorang kepala negara tidak hanya dituntut menyampaikan program dan gagasan, tetapi juga harus memahami bagaimana ucapannya diterima oleh masyarakat.

        Perbandingan itu semakin menarik karena muncul bersamaan dengan polemik salah satu pidato Prabowo dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

        Prabowo diketahui memperkenalkan Susana. Ia merupakan seorang buruh harian pengupas bawang asal Kabupaten Bogor, Prabowo menyebut perempuan tersebut mendapatkan upah Rp700 ribu per kilogram bawang yang dikupas.

        “Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram,” kata Prabowo.

        Baca Juga: Sikap Prabowo Berubah Sejak Joget Gemoy: Ejek Rakyat hingga Kupas Bawang Sekilo Rp700 Ribu

        Pernyataan tersebut kemudian memunculkan sorotan terkait akurasi data yang disampaikan dalam pidato dari Prabowo. Hal itu karena klaim tersebut ternyata berbanding terjauh di lapangan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: