Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Soal Pidato Presiden, Anies Baswedan: Menggaungkan Semangat, Bukan Membangkitkan Emosi

        Soal Pidato Presiden, Anies Baswedan: Menggaungkan Semangat, Bukan Membangkitkan Emosi Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai pidato seorang presiden memiliki pengaruh besar terhadap suasana psikologis masyarakat. Karena itu, menurutnya, narasi yang disampaikan kepala negara harus disusun secara hati-hati agar mampu membangkitkan optimisme tanpa mengabaikan kondisi faktual.

        Pandangan tersebut disampaikan Anies dalam siniar NOTASLIMBOY TV yang tayang pada 12 Agustus 2026. Ia menilai pesan yang disampaikan seorang presiden tidak hanya berfungsi sebagai komunikasi politik, tetapi juga turut membentuk suasana atau mood bangsa.

        Anies mengatakan kepala negara merupakan salah satu figur utama yang menentukan suasana psikologis dalam kehidupan bernegara. Karena itu, pesan yang disampaikan dalam pidato kenegaraan seharusnya dapat memberikan semangat kepada masyarakat.

        "Pesan-pesan itu membuat mood-nya bangsa itu ada. Nah, karena itu pesan-pesannya harus membangkitkan semangat, bukan membangkitkan emosi," ujar Anies.

        Menurut dia, pidato presiden juga perlu memiliki tujuan yang jelas. Durasi penyampaian pesan, kata Anies, perlu dikendalikan agar gagasan utama dapat diterima masyarakat tanpa terdistraksi oleh hal-hal lain.

        Anies juga menekankan bahwa membangun optimisme tidak berarti pemerintah boleh mengubah fakta atau memanipulasi data.

        Ia menggunakan analogi sebuah botol yang terisi 50 persen air. Angka tersebut merupakan fakta yang tidak boleh diubah oleh pemerintah demi membangun kesan keberhasilan.

        Menurut Anies, data yang dikeluarkan lembaga negara seperti Badan Pusat Statistik (BPS) harus tetap menjadi pijakan. Pemerintah tidak boleh mengubah angka 50 persen menjadi 60 persen hanya agar narasi yang disampaikan terdengar lebih positif.

        Namun, fakta yang sama dapat dilihat dari perspektif yang berbeda. Pemerintah dapat menyebut kondisi tersebut sebagai "setengah berisi" untuk membangun optimisme, sementara pihak yang mengkritik pemerintah bisa melihatnya sebagai "setengah kosong".

        Bagi Anies, perbedaan tersebut merupakan bagian dari demokrasi. Perdebatan antara pemerintah dan kelompok kritis seharusnya terjadi pada ranah perspektif terhadap fakta, bukan dengan mengubah atau memperdebatkan validitas data.

        Anies kemudian mengambil contoh dari Presiden pertama RI Sukarno dalam membangun kepercayaan diri bangsa melalui pidato.

        Ia menyinggung pernyataan Sukarno, "Beri saya 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia." Menurut Anies, pernyataan tersebut disampaikan ketika Indonesia masih menghadapi persoalan besar, termasuk tingginya tingkat buta huruf.

        Meski mengetahui berbagai keterbatasan bangsa pada masa itu, Sukarno menurut Anies tidak menjadikan persoalan tersebut sebagai alasan untuk meruntuhkan kepercayaan diri masyarakat.

        Baca Juga: Prabowo Akui Pakai Gaya Micromanager, Anies Baswedan Contohkan Kesalahan Manajemen MBG

        Sebaliknya, ia memilih membangun keyakinan bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi untuk berkembang dan berperan besar.

        "Dia tidak memangkas percaya diri anak mudanya. Fakta kita punya masalah, stok masalah kita cukup, tapi pesan tentang situasi bangsa harus selalu diberikan pesan yang positif," kata Anies.

        Menurut Anies, cara seorang pemimpin menyampaikan fakta menjadi penting karena pidato kepala negara tidak hanya menyampaikan kondisi bangsa, tetapi juga dapat memengaruhi semangat dan keyakinan masyarakat dalam menghadapi persoalan tersebut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: