Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        SKK Migas Beberkan Skenario Kurangi Ekspor LNG demi Pasokan Dalam Negeri

        SKK Migas Beberkan Skenario Kurangi Ekspor LNG demi Pasokan Dalam Negeri Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan ekspor liquefied natural gas (LNG) dan gas pipa ke sejumlah negara dapat dikurangi apabila pasokan gas untuk kebutuhan domestik mengalami kekurangan.

        Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan sekitar 75% produksi gas nasional saat ini telah digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Pemanfaatannya mencakup sektor ketenagalistrikan, pupuk, industri yang disalurkan melalui PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), kegiatan lifting minyak, serta jaringan gas rumah tangga atau jargas.

        Sementara itu, sekitar 25% gas Indonesia masih dialokasikan untuk ekspor dalam bentuk LNG dan gas pipa ke salah satunya ke Singapura.

        “Produksi gas kita, 75% LNG dan gas pipa ke Singapura kita ekspor itu masih 25%. 75% sudah kita gunakan di dalam negeri baik untuk kelistrikan, pupuk, untuk industri melalui PGN, juga untuk lifting, jargas, dan lain-lain,” kata Djoko dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

        Djoko mengatakan alokasi ekspor tersebut dapat dikurangi apabila pasokan gas domestik tidak mencukupi.

        “Untuk gas saya tidak terlalu khawatir karena kita masih ekspor gas. Apabila dalam negeri kekurangan maka yang ekspor kita kurangi Pak, baik gas pipa ke Singapura maupun LNG untuk pemenuhan dalam negeri,” ujarnya.

        Pernyataan itu disampaikan di tengah sejumlah gangguan yang memengaruhi produksi gas nasional. Djoko menyebut kebocoran pipa TGI mengganggu sekitar 200 million standard cubic feet per day (MMSCFD) pasokan gas.

        Selain itu, kebakaran pipa di Subang dan kebakaran switchgear di fasilitas BP turut menekan produksi gas. Perbaikan fasilitas BP disebut belum sepenuhnya rampung.

        “Untuk gas tadi sama persis apa yang telah disampaikan oleh Bapak Dirjen, itu menurun tadi saya sudah sampaikan di TGI pipa putus 200 MMSCFD. Di Subang juga kecelakaan baru saja selesai perbaikan dari Januari, dan di BP ada kebakaran switchgear yang sampai hari ini belum 100% perbaikannya,” kata Djoko.

        Baca Juga: Kejar Lifting 610 Ribu Bph, SKK Migas Bidik Dead Stock dan Sumur Rakyat

        Baca Juga: Kontrak LNG Berakhir 2027, Donggi Senoro Mulai Jajaki Pasar Baru

        Untuk menjaga penyaluran gas, SKK Migas juga menyiapkan kontrak yang lebih fleksibel. Skema itu disiapkan agar pasokan dapat dialihkan ke pengguna lain ketika pembeli, termasuk PLN, tidak menyerap gas sesuai volume kontrak.

        “Kita mau membuat kontrak yang fleksibilitas untuk setiap saat kita bisa alokasikan ke tempat lainnya,” katanya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: