Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Hashim Klaim Industri Batu Bara di Indonesia Masih Punya Umur Panjang

        Hashim Klaim Industri Batu Bara di Indonesia Masih Punya Umur Panjang Kredit Foto: IST
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Utusan Khusus Presiden bidang Iklim dan Energi sekaligus adik dari Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, tidak memungkiri bahwa batu bara masih diperlukan untuk menjaga ketahanan energi nasional, khususnya bagi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dioperasikan oleh PT PLN (Persero) maupun produsen listrik independen swasta (IPP).

        Hashim menyatakan bahwa Indonesia masih konsisten mengejar target net zero emission pada 2060. Kendati begitu, pemakaian batu bara sebagai sumber energi berpolusi kini telah tereduksi berkat adanya teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon, atau carbon capture and storage (CCS).

        Menurut dia, penerapan teknologi penangkapan karbon dapat memperpanjang masa pemanfaatan industri batu bara nasional sekaligus menekan emisi yang dihasilkan. Alhasil, Indonesia tidak lagi perlu dilema dalam memilih antara mengejar target net zero emission atau ketergantungan pada energi fosil.

        “Apa artinya? Artinya, industri batu bara kita masih memiliki masa depan yang cukup panjang. Kita dapat mempertahankan pembangkit listrik tenaga batu bara kita," ujar dia dalam the 4th International & Indonesia Carbon Capture and Storage (IICCS) Forum 2026 di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

        "Hal ini tidak kontradiktif. Kita ingin menuju net zero emission, tapi kita juga ingin mempertahankan industri-industri vital kita, termasuk industri batu bara dan pembangkit listrik (berbasis batu bara) di Indonesia. Ini adalah pesan yang ingin saya berikan," tegasnya.

        Ia lantas mencontohkan uji coba carbon capture asal Jepang di Petrokimia Gresik. Menurut informasi yang diterimanya dari Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, teknologi tersebut mampu mereduksi emisi karbon hingga 95%.

        Baca Juga: Hashim Djojohadikusumo Ungkap Potensi Pemanfaatan Karbon Dioksida untuk Program MBG

        Baca Juga: Hashim Djojohadikusumo: Hunian Terjangkau Tidak Boleh Diborong Segelintir Orang

        Baca Juga: Danantara Optimistis DSI Bisa Dongkrak Harga Jual Batu Bara dan CPO

        “Teknologi tersebut mampu mengurangi emisi karbon hingga 95%, tepatnya sekitar 90-95%. Teknologi ini menggunakan bahan bakar fosil, saya diberi tahu yang digunakan adalah gas, tetapi batu bara juga dapat digunakan sebagai input,” terang dia.

        Di luar menekan emisi, uji coba tersebut sukses menelurkan produk sampingan berupa abu soda. Hashim menilai hal ini menjadi peluang ekonomi lantaran Indonesia masih mengimpor komoditas tersebut. 

        "Sebagai hasil eksperimen ini, Menteri Perindustrian Indonesia telah diarahkan oleh beberapa perusahaan Jepang yang ingin mengambil soda ash dan mengekspor ke negara lain yang juga mengimpornya," tutur dia

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: