Kredit Foto: Sufri Yuliardi
PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) memproyeksikan rupiah masih menghadapi tekanan hingga berada di kisaran Rp17.800-Rp18.300 per dolar AS. Saat ini, rupiah bergerak di level Rp17.907 per dolar AS. Adapun volatilitas nilai tukar ini perlu menjadi perhatian investor di tengah kondisi ekonomi domestik yang memasuki fase pengetatan dan perlambatan.
WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah mengatakan konsensus Bloomberg memperkirakan nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp17.800 per dolar AS, sedangkan proyeksi CIMB Niaga lebih konservatif di level Rp18.300.
“Lalu yang kedua, mitigasi nilai tukar. Karena rupiah masih volatile, kita masih melihat USD to IDR kita di ekspektasi oleh konsensus Bloomberg aja 17.800, dari CIMB Niaga lebih konservatif 18.300. Sehingga kita bisa tarik kesimpulan mitigasi nilai tukar,” ujar Lanjar dalam acara Wealth XPO CIMB Niaga di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Ia menilai, tekanan terhadap rupiah ini perlu diantisipasi karena kondisi ekonomi Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat. Kini, Indonesia tengah menghadapi pengetatan kebijakan suku bunga sekaligus perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sementara, Amerika berada dalam fase soft landing dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 2%.
Lanjar mengatakan investor dapat melakukan diversifikasi dengan mempertimbangkan instrumen yang tidak berdenominasi rupiah untuk mengurangi eksposur terhadap volatilitas nilai tukar.
“Mulailah investasi ke nilai tukar yang tidak berdenominasi rupiah, bisa reksa dana global syariah, ya, atau reksa dana pendapatan tetap yang US dollar, itu ada semua di CIMB Niaga,” katanya.
Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis, Pasar Soroti Intermediasi Perbankan dan Wait and See Data Ekonomi
Baca Juga: Destry Paparkan Visi Jadi Gubernur BI, Fokus Stabilitas Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.695 per Dolar AS Jelang Rilis Data Inflasi AS
Di tengah tekanan ini, ia mengatakan bahwa pasar obligasi masih memiliki daya tarik dan BI Rate masih bisa naik satu kali hingga akhir tahun.
“Karena ekonomi saat ini sedang menghadapi kenaikan fase kenaikan BI rate. Sehingga itu saat yang tepat untuk mengunci imbal hasil kita,” ujar Lanjar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: