Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia saat ini dikhawatirkan akan semakin mengganggu konektivitas angkutan udara nasional jika tidak segera diatasi. Hal ini karena adanya dampak serius karhutla bagi operasional penerbangan serta bagi penumpang pesawat.
Menurut catatan Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional (INACA), karhutla selama Agustus 2026 telah berdampak terhadap penerbangan di sejumlah wilayah, mulai dari Kalimantan, Sumatera, hingga Papua.
Ambil contoh, terganggunya penerbangan di Bandara Supadio Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Barat akibat jarak pandang dibawah 1.000m sehingga mengakibatkan lebih dari 21 keterlambatan penerbangan, pengalihan penerbangan dan pembatalan penerbangan.
Lalu, terganggunya penerbangan di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah sehingga menyebabkan sejumlah keterlambatan penerbangan.
Terjadinya keterlambatan penerbangan di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru Kalimantan Selatan akibat jarak pandang yang turun hingga hanya 200m.
Kemudian, terjadinya holding dan pengalihan penerbangan ke Bandara Sultan Thaha Saifuddin, Jambi akibat kabut asap yang menyebabkan jarak pandang turun hingga hanya 800m. Hingga terganggunya penerbangan di sekitar Bandara Douw Aturure Nabire, Papua Tengah yang mengakibatkan keterlambatan sejumlah penerbangan.
Oleh karenanya, Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja berharap penanganan Karhutla di seluruh wilayah Indonesia bisa dipercepat sehingga dampaknya bisa diminimalisir.
"Penanganan ini perlu dipercepat dengan kerjasama semua pihak agar tidak berdampak pada konektivitas angkutan udara dan perekonomian nasional," ujar Denon dalam pernyataan resmi, Jumat (28/8/2025).
Adapun dampak utama Karhutla pada operasional penerbangan, di antaranya yakni, penurunan jarak pandang (visibility) akibat kabut asap, terutama di seputar bandara sehingga pesawat harus holding, terlambat terbang (delay), mengalihkan penerbangan dan membatalkan penerbangan untuk menunggu kabut asap hilang.
Kabut asap juga akan membuat petugas ATC menambah jarak pemisahan (separation distance) antarpesawat, terutama saat akan take off dan landing.
Risiko keselamatan penerbangan karena partikulat asap, jelutong, dan abu berpotensi mengotori filter udara turbin mesin pesawat, menyumbat tabung pitot-static yang sensitif, serta mempercepat keausan komponen internal mesin jika terhirup terus-menerus.
Baca Juga: Prabowo Kirim 100 Motor Trail untuk Atasi Karhutla Sumsel, Ini Spesifikasinya
Baca Juga: Karhutla Berau Jadi Fokus, Menhut Raja Antoni Kejar Hujan lewat Operasi Modifikasi Cuaca
Baca Juga: BNPB Masih Punya Rp5 Triliun, Purbaya Siap Tambah Dana Karhutla Jika Kurang
Jika penerbangan di satu bandara terlambat (delay) karena terdampak karhutla, bisa menyebabkan keterlambatan di bandara-bandara lainnya karena adanya efek berantai operasional penerbangan.
Dampak operasional ini akan mengakibatkan biaya operasional maskapai penerbangan juga meningkat, seperti misalnya tambahan biaya tambahan bahan bakar akibat pesawat yang holding sebelum mendarat, biaya kompensasi keterlambatan penumpang, refund tiket, gangguan perputaran rotasi pesawat dan kru penerbangan (flight crew scheduling), serta dampak-dampak lainnya.
Menurut Denon, dampak karhutla selain pada operasional penerbangan juga akan berdampak pada penumpang. "Asap yang pekat tentu akan mengganggu kesehatan penumpang, terutama saat menuju, di dalam dan saat ke luar bandara. Penumpang juga akan terganggu kepentingannya kalau terjadi keterlambatan penerbangan," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dian Ihsan