Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Tertekan ke Rp17.744/USD, Pasar Waspadai Konflik AS-Iran dan The Fed

        Rupiah Tertekan ke Rp17.744/USD, Pasar Waspadai Konflik AS-Iran dan The Fed Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.744 atau melemah 22 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.722 per USD.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuabi, mengatakan pelemahan ini dipicu kondisi dinamika global. Ketegangan AS dan Iran perlu diwaspadai karena berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi global.

        “Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran. Kondisi tersebut terjadi setelah Iran dan AS terlibat saling serang secara langsung untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (1/9/2026).

        Menurutnya, risiko juga datang dari belum dibukanya kembali Selat Hormuz yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global. Kondisi ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

        Baca Juga: Harga Minyak Melonjak US$91 per Barel, Konflik AS-Iran Kembali Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan

        Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.772, Subsidi Energi Jadi Ancaman Baru bagi Fiskal

        Sentimen rupiah turut dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh yang bernada hawkish. Probabilitas kenaikan suku bunga pada September berdasarkan CME FedWatch naik menjadi sekitar 66% dari 38% sebelum pidato tersebut.

        Ibrahim menilai perubahan ekspektasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, daya tarik aset berdenominasi dolar AS berpotensi meningkat sehingga dapat mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

        Kondisi ini semakin berisiko menekan rupiah ketika ketidakpastian geopolitik dan harga energi global juga meningkat.

        Dari dalam negeri, PMI Manufaktur Indonesia kembali masuk zona kontraksi dengan turun menjadi 49,8 pada Agustus 2026 dari 50,2 pada Juli. Pelemahan terutama dipengaruhi penurunan output dan penyerapan tenaga kerja.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: