Kredit Foto: Ist
Presiden Prabowo Subianto disebut bukan sosok yang buta terhadap berbagai manuver politik di sekeliling pemerintahannya. Dinamika yang berkembang, termasuk dugaan adanya pihak-pihak yang berupaya melemahkan hingga menjatuhkan kekuasaannya, diyakini sudah masuk dalam radar sang presiden.
Namun, pertanyaan lain justru muncul, jika Prabowo mengetahui peta kekuatan tersebut, mengapa hingga kini belum terlihat langkah politik terbuka untuk menghadapi pihak-pihak yang diduga berseberangan dengannya?
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, sikap tersebut menunjukkan adanya persoalan yang jauh lebih kompleks di balik dinamika politik pemerintahan.
“Prabowo tahu persis siapa yang ingin menjatuhkan. Persoalannya, mengapa sampai sekarang belum bersikap secara terbuka?” kata Amir.
Baca Juga: Mahfud MD: Kesannya Pak Prabowo Tuh Gak Pernah Mau Dengar Kritik
Salah satu dinamika yang menjadi sorotan berkaitan dengan pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi yang dikaitkan dengan isu keberlangsungan kekuasaan hingga 2029. Pernyataan tersebut kemudian ikut menjadi perhatian dalam berbagai pembahasan politik karena dikaitkan dengan konsolidasi kelompok politik maupun jaringan relawan.
Amir juga menyoroti sejumlah pertemuan dan konsolidasi kekuatan politik yang dikaitkan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Menurut analisisnya, terdapat dinamika yang melibatkan sejumlah kelompok, termasuk partai politik dan jaringan relawan.
Bahkan, Amir menggunakan istilah “sindikasi Solo, Singapura, dan Bandung” atau SSB untuk menggambarkan dugaan jaringan kekuatan yang menurutnya perlu dicermati. Istilah tersebut digunakan Amir dalam membaca kemungkinan adanya pergerakan kelompok-kelompok politik di tengah konstelasi kekuasaan saat ini.
Baca Juga: Mahfud MD Akui Prabowo Banyak Berubah, Sudah Lama Dia Tidak...
Situasi tersebut sekaligus membuat hubungan politik antara Jokowi dan Prabowo dinilai tak lagi bisa dibaca secara sederhana. Amir melihat perkembangan politik belakangan ini membuka pertanyaan mengenai apakah kedua tokoh tersebut masih berada dalam satu garis kepentingan politik atau justru mulai mengalami perenggangan.
“Jangan melihat semuanya secara hitam putih. Ada dinamika, ada kepentingan, dan ada perubahan konstelasi kekuatan,” ujar Amir.
Meski demikian, Amir menilai Prabowo diyakini telah memahami peta kekuatan politik yang berkembang tersebut. Tidak adanya tindakan politik drastis hingga saat ini, menurutnya, bukan berarti Prabowo tidak mengetahui persoalan yang sedang berlangsung di sekeliling pemerintahannya.
Justru sebaliknya, Prabowo disebut sedang berada dalam situasi yang menuntut perhitungan matang. Berbagai faktor politik yang saling berkelindan membuat setiap keputusan besar perlu dipertimbangkan secara cermat sebelum benar-benar diambil.
Dengan demikian, sikap Prabowo yang belum terbuka menghadapi pihak-pihak yang diduga ingin melemahkannya dinilai bukan semata-mata persoalan ketidaktahuan. Bagi Amir, ada kalkulasi politik yang kemungkinan sedang berjalan di balik sikap Presiden tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: