Kredit Foto: Kementerian ESDM
Harga minyak mentah bergerak melemah pada perdagangan Kamis (3/9/2026), setelah investor mempertimbangkan ketidakpastian terkait konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Mengacu pada data perdagangan, kontrak berjangka minyak Brent turun 43 sen atau 0,45% menjadi US$95,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 24 sen atau 0,26% menjadi US$90,77 per barel.
Pergerakan tersebut terjadi setelah harga minyak melonjak pada sesi sebelumnya menyusul meningkatnya kembali ketegangan militer antara Washington dan Teheran. Brent dan WTI sempat bergerak dalam rentang sekitar US$3 per barel sepanjang perdagangan Rabu, mencerminkan tingginya volatilitas pasar energi.
Investor kini mencermati perkembangan konflik setelah AS melancarkan serangan terhadap sistem radar dan rudal Iran di sekitar Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump juga memberikan sinyal bahwa Washington siap mengambil tindakan lebih lanjut.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dilaporkan menurun. Hanya empat kapal yang melintas pada periode terakhir, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 13 kapal.
Meski demikian, pasar mendapat sedikit sentimen positif setelah tidak ada serangan baru yang dilaporkan hingga Rabu siang waktu Sydney. Kondisi tersebut memunculkan harapan bahwa eskalasi konflik dapat mereda, sehingga tekanan terhadap harga minyak ikut berkurang.
Di sisi lain, arus minyak melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sekitar 17 juta barel minyak mentah melintasi selat tersebut pada Senin, menjadi volume tertinggi sejak gangguan akibat perang Iran mulai menekan aktivitas pelayaran.
Namun, risiko terhadap pasokan global masih menjadi perhatian investor. Serangan terhadap kapal tanker yang membawa minyak Arab Saudi di sekitar Selat Hormuz pada awal pekan turut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu jalur distribusi energi dunia.
Baca Juga: AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Brent Tembus US$95
Baca Juga: Lifting Minyak RI Masih di Bawah Target, Bahlil Ungkap Penyebabnya
Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan arah kebijakan produksi OPEC+. Organisasi tersebut diperkirakan mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (6/9/2026).
Dengan kondisi tersebut, harga minyak diperkirakan masih akan bergerak volatil. Investor akan terus mencermati perkembangan konflik AS-Iran, keamanan pelayaran di Selat Hormuz, serta respons negara-negara produsen minyak terhadap potensi gangguan pasokan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: