Reza Indragiri Ungkap Penyebab Hercules Terlihat Kebal Hukum, Bukan karena Beking Prabowo
Kredit Foto: Ist
Kriminolog Reza Indragiri menyoroti sepak terjang Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules Rosario Marshal, yang dinilai semakin berani menggunakan instrumen kekerasan di ruang publik.
Reza secara tegas menepis anggapan bahwa keberanian Hercules didasari oleh perlindungan atau backing dari institusi militer seperti TNI, Kopassus, maupun tokoh besar seperti Prabowo Subianto.
Menurut analisis Reza, akar masalah mengapa Hercules terkesan kebal hukum saat ini bermuara pada satu hal: lambat dan tidak menentunya proses penegakan hukum oleh pihak kepolisian, khususnya Polda Metro Jaya.
Reza tidak menampik bahwa Hercules memiliki pertalian emosional yang sangat kuat dengan Prabowo Subianto dan Mayjen (Purn) Zacky Anwar Makarim saat era Orde Baru.
Kedekatan ini terjalin sejak ketiganya berada di Timor Timur. Bahkan, saat Hercules mengalami cedera, ia dibawa ke Jakarta untuk berobat.
Loyalitas Hercules teruji saat masa Reformasi, ketika Prabowo didepak dari keanggotaan TNI dan merenggangnya hubungan dengan keluarga Cendana. Di masa-masa berat tersebut, Reza menyebut hanya ada dua pihak yang tetap loyal mendampingi Prabowo: koleganya di Tim Mawar dan Hercules.
"Namun, saya tidak sepakat jika dikatakan Prabowo memberikan lampu hijau kepada Hercules untuk melakukan kekerasan bersama ormasnya," tegas Reza dalam videonya.
Sebagai bukti, Reza menyinggung posisi Prabowo sebagai Dewan Pembina/Penasihat GRIB Jaya, Prabowo menyatakan harapannya agar ormas tersebut menciptakan perubahan yang memberikan rasa aman dan pelayanan bagi masyarakat, bukan menyebarkan ancaman layaknya preman.
"Ini menunjukkan bahwa Prabowo tetap rasional. Pertemanan mereka sehat dan konstruktif. TNI bukan backing-nya Hercules, Kopassus pun demikian, apalagi Prabowo," imbuh Reza.
Sentil Kinerja Polda Metro Jaya Saat Ini
Jika institusi militer dan tokoh besar tidak melindunginya, Reza mempertanyakan mengapa kasus-kasus terbaru yang menyeret nama Hercules dan GRIB Jaya seolah jalan di tempat.
Reza mencontohkan laporan warga bernama Ilma Sani Fitriana ke Polda Metro Jaya yang hingga kini belum jelas nasibnya.
Begitu pula dengan kasus pengeroyokan di demonstrasi 27 Agustus yang menewaskan Bambang Setiawan dan melukai murid Madrasah bernama Fathurohman baru-baru ini, di mana nama GRIB Jaya diduga ikut terseret dalam pusaran isu tersebut.
"Sudah sekian hari berselang, belum ada sehembus angin pun atau kabar baik dari Polda Metro Jaya apakah akan memproses hukum atau tidak," kritik Reza.
Nostalgia Ketegasan Kapolda Terdahulu
Untuk membuktikan bahwa Hercules bisa tersentuh hukum, Reza mengajak publik mengingat kembali rekam jejak para Kapolda Metro Jaya di masa lalu yang sukses menyeret Hercules ke meja hijau:
Tahun 2006 (Irjen Pol Firman Gani): Hercules divonis 2 bulan penjara.
Tahun 2013 (Irjen Pol Putut Eko Bayuseno): Hercules divonis 4 bulan penjara.
Tahun 2014 (Irjen Pol Dwi Priyatno): Hercules divonis 3 tahun penjara dan denda Rp50 juta.
Tahun 2019 (Irjen Pol Gatot Edi Pramono): Hercules ditangkap terkait kasus penguasaan lahan ilegal.
Melihat fakta historis tersebut, Reza menyimpulkan bahwa membesarnya kekuasaan Hercules di Jakarta bukan karena tameng militer atau politisi, melainkan absennya ketegasan hukum saat ini.
"Apakah hukum akan dibiarkan tutup mulut, atau didorong untuk bekerja memastikan tidak ada satu pun warga negara yang kebal hukum?" pungkas Reza.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat