Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pupuk Indonesia Jajaki Investasi Pabrik Pupuk di Rusia, Bidik Pasar Asia-Pasifik

        Pupuk Indonesia Jajaki Investasi Pabrik Pupuk di Rusia, Bidik Pasar Asia-Pasifik Kredit Foto: PT Pupuk Indonesia (Persero)
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki kerja sama strategis pengembangan fasilitas produksi amonia dan urea berskala global, Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 (NFP-2), di Primorsky Krai, Rusia.

        Penjajakan tersebut menjadi bagian dari strategi Pupuk Indonesia untuk mendiversifikasi sumber pasokan, memperkuat ketahanan rantai pasok pupuk nasional, serta memperluas akses terhadap aset dan rantai pasok industri pupuk global.

        Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk melakukan studi bersama (joint study) dalam rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok pada 3 September 2026.

        Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan kerja sama kajian dengan Rusia menjadi salah satu opsi jangka panjang untuk memperluas alternatif sumber produksi dan pasokan pupuk.

        “Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global. Hal ini sejalan dengan arahan Danantara agar Pupuk Indonesia makin berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus memperluas peran di industri pupuk global,” kata Rahmad.

        Menurutnya, kerja sama tersebut juga membuka potensi akses terhadap produksi amonia dan urea berbasis gas dengan struktur biaya bahan baku yang kompetitif dan ramah lingkungan.

        Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan P. Roeslani mengatakan penjajakan tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dalam rangkaian EEF ke-11.

        “Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia. Diharapkan ini menjadi salah satu langkah strategis yang bisa memperkuat sektor ketahanan bahan baku kita dan juga ketahanan industri kita,” kata Rosan.

        Rahmad mengatakan pengalaman Pupuk Indonesia dalam mengolah gas untuk produksi amonia dan urea menjadi salah satu modal dalam mengkaji peluang kerja sama di Rusia. Pengalaman tersebut dinilai relevan dengan karakteristik proyek NFP yang berbasis gas alam.

        NFP merupakan proyek pembangunan kompleks industri metanol, amonia, dan urea di Primorsky Krai, Rusia Timur, yang dikembangkan JSC Ruschem. Fasilitas tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton metanol, 2 juta ton amonia, dan 3,5 juta ton urea per tahun, dengan target commercial operation sekitar 2030.

        Lokasi proyek juga dinilai strategis karena berada di kawasan Primorsky yang memiliki akses Pelabuhan Vladivostok ke Samudera Pasifik. Kondisi tersebut berpotensi membuka akses Pupuk Indonesia ke pasar Asia-Pasifik yang selama ini menjadi salah satu kawasan penting dalam aktivitas perdagangan perusahaan.

        “Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia,” ujar Rahmad.

        Potensi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Pupuk Indonesia dalam mengkaji pengembangan NFP-2 sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing dan ketahanan rantai pasok perusahaan.

        Baca Juga: Pupuk Indonesia Genjot Keuntungan 252,8% Usai Prabowo Pangkas 145 Aturan

        Baca Juga: 145 Aturan Penyaluran Dihapus, Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen

        Penandatanganan MoU menjadi tahap awal bagi Pupuk Indonesia dan JSC Ruschem untuk mengkaji potensi pengembangan NFP-2 secara menyeluruh.

        Melalui kerja sama tersebut, kedua pihak akan melakukan feasibility study dan due diligence terhadap proyek. Kajian mencakup aspek teknis, keekonomian, kepastian pasokan bahan baku, struktur pembiayaan, risiko proyek, serta kepatuhan terhadap ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku.

        Pendekatan tersebut menjadi bagian dari proses Pupuk Indonesia dalam mengevaluasi setiap peluang pengembangan bisnis dan investasi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: