Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pabrik BYD Dibuka, SSIA Incar Efek Domino ke Subang Smartpolitan

        Pabrik BYD Dibuka, SSIA Incar Efek Domino ke Subang Smartpolitan Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) melihat pembukaan pabrik BYD di Indonesia sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik di kawasan Subang Smartpolitan, Jawa Barat.

        Perseroan berharap keberadaan fasilitas produksi BYD dapat mendorong masuknya perusahaan pemasok dan rantai pasok (supply chain) BYD ke kawasan industri yang dikembangkan SSIA tersebut.

        Presiden Direktur SSIA Johannes Suriadjaja mengatakan, kehadiran pabrik BYD di Indonesia merupakan perkembangan positif bagi industri nasional. Selain mendorong produksi kendaraan listrik, investasi tersebut dinilai berpotensi menciptakan efek lanjutan bagi pelaku industri lokal.

        "Menurut kita sangat positif dengan adanya pabrik BYD di Indonesia dan kita harapkan bisa terjadi juga transfer teknologi daripada BYD kepada pengusaha-pengusaha lokal di Indonesia," kata Johannes dalam Public Expose secara Live dalam rangka HUT ke-49 Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (3/9/2026).

        Menurut Johannes, SSIA juga berharap rantai pasok BYD dapat masuk ke kawasan Subang Smartpolitan. Dengan demikian, ekosistem industri kendaraan listrik di kawasan tersebut dapat berkembang lebih kuat.

        "Kita harapkan juga nanti ke depannya ada supply chain daripada BYD sendiri, kita harapkan bisa masuk kepada Subang sehingga ekosistem yang terbentuk di Subang Smartpolitan dengan adanya BYD ini untuk kendaraan listrik bisa terbentuk dengan baik," ujarnya.

        Bidik Ekosistem Industri EV

        Johannes menilai keberadaan BYD di Indonesia juga menunjukkan komitmen produsen kendaraan listrik asal China tersebut untuk mengembangkan industri kendaraan listrik di Tanah Air.

        Bagi SSIA, masuknya perusahaan pemasok BYD ke Subang Smartpolitan berpotensi memperluas basis tenant sekaligus memperkuat keterkaitan antarindustri di kawasan tersebut.

        Saat ini, basis tenant di Subang Smartpolitan telah mencakup sejumlah sektor, antara lain otomotif, elektronik, consumer goods, serta garment dan tekstil.

        Ke depan, SSIA melihat profil tenant di Subang Smartpolitan masih akan berkembang mengikuti kebutuhan industri yang masuk ke kawasan tersebut.

        Pengembangan ekosistem industri menjadi salah satu fokus SSIA di Subang Smartpolitan. Perseroan tidak hanya menargetkan kawasan tersebut sebagai lokasi manufaktur, tetapi juga ingin mengembangkannya menjadi pusat industri bernilai tambah tinggi, inovasi, serta penelitian dan pengembangan.

        Baca Juga: SSIA Bidik Pertumbuhan Pendapatan 60%, Subang Smartpolitan Jadi Penopang

        Baca Juga: Sebulan Lebih Investigasi, BYD Belum Temukan Penyebab Seal Terbakar di Tol Japek

        Baca Juga: BYD Bangun Ekosistem Baterai di Indonesia, Begini Nasib Baterai Mobil Lama

        Investasi China Masih Jadi Andalan

        Peluang pengembangan kawasan industri tersebut juga didukung oleh pandangan SSIA terhadap prospek investasi asing, khususnya dari China.

        Manajemen SSIA melihat arus investasi dari China ke Indonesia masih cukup stabil hingga 2027. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi peluang bagi pengembangan kawasan industri perseroan.

        "Kita masih lihatnya bakal banyak investasi masih cukup stabil datangnya dari China," kata Johannes.

        Meski demikian, SSIA tetap mencermati sejumlah faktor makroekonomi, termasuk kondisi suku bunga dan nilai tukar rupiah.

        Dengan potensi investasi baru serta pengembangan ekosistem kendaraan listrik, SSIA berharap Subang Smartpolitan dapat terus menarik perusahaan manufaktur maupun perusahaan pendukung industri yang membutuhkan lokasi produksi di Indonesia.

        Sementara itu, SSIA menargetkan marketing sales sebesar sekitar 60 hektare pada 2027. Perseroan melihat prospek bisnis kawasan industri masih cukup stabil meski kondisi ekonomi global dan geopolitik masih menghadirkan tantangan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: