Kredit Foto: Surya Internusa
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) melihat bisnis data center sebagai salah satu peluang pertumbuhan baru di kawasan industri yang dikelolanya. Meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital, termasuk akibat perkembangan artificial intelligence (AI), ikut mendorong permintaan lahan untuk fasilitas data center.
Direktur SSIA Wilson Effendy mengatakan permintaan tersebut mulai terlihat di dua kawasan industri perseroan, yakni Karawang dan Subang.
Khusus di Karawang, SSIA memperkirakan permintaan lahan untuk data center dapat mencapai sekitar 10 hektare hingga akhir 2026.
“Untuk tahun ini kami memperkirakan permintaan mencapai sekitar 10 ha untuk data center di Karawang,” ujar Wilson dalam acara Public Expose Live 2026, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Menurut Wilson, pengembangan data center memiliki kebutuhan infrastruktur yang lebih spesifik dibandingkan industri pada umumnya. Tiga aspek yang menjadi perhatian utama calon tenant adalah ketersediaan listrik, air, dan jaringan atau network.
Di kawasan industri Karawang, kebutuhan listrik akan dipasok melalui PLN, sedangkan air disediakan oleh pengelola kawasan. Wilson memastikan kapasitas infrastruktur tersebut masih dapat memenuhi kebutuhan calon tenant.
Sementara itu, peluang di Subang Smartpolitan masih berada pada tahap pembahasan dengan calon investor. Sejumlah calon tenant masih melakukan peninjauan terhadap kesiapan infrastruktur yang tersedia di kawasan tersebut.
“Permintaan sudah ada untuk data center, tapi mereka sedang mereview,” kata Wilson.
Menurut dia, proses evaluasi calon tenant data center cenderung lebih ketat karena kebutuhan infrastrukturnya cukup spesifik. Peninjauan antara lain mencakup jaringan, ketersediaan air, hingga infrastruktur pendukung lainnya.
SSIA berharap proses tersebut dapat berkembang menjadi realisasi proyek pada 2027.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, perseroan juga terus mengembangkan infrastruktur kelistrikan di Subang Smartpolitan. Tahap pertama pembangunan infrastruktur listrik telah diselesaikan dan kini perseroan melanjutkan ke tahap kedua.
AI Jadi Pendorong Permintaan Data Center
SSIA melihat perkembangan AI sebagai salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan kebutuhan data center dalam beberapa tahun mendatang.
Wilson memperkirakan tren tersebut akan terus berkembang dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Kondisi ini dinilai dapat membuka peluang lebih besar bagi kawasan industri yang memiliki kesiapan infrastruktur untuk menampung fasilitas data center.
“Growth-nya sangat tinggi. Kami percaya permintaan data center dalam dua tahun ke depan akan cukup tinggi untuk kawasan,” ujarnya.
Karena itu, SSIA kini berfokus memastikan kebutuhan dasar data center, terutama listrik, air, dan jaringan, dapat tersedia sesuai spesifikasi yang dibutuhkan calon tenant.
Peluang SSIA dari bisnis data center juga tidak hanya berasal dari penjualan lahan. Perseroan berpotensi memperoleh tambahan bisnis dari sisi konstruksi apabila proyek yang masuk membutuhkan jasa kontraktor.
Presiden Direktur SSIA Johannes Suriadjaja mengatakan anak usaha perseroan, Nusantara Rakyat Cipta, saat ini tengah mengikuti tender untuk menjadi kontraktor dalam salah satu proyek data center berskala besar.
“Memang cukup besar, cuma kita belum tahu hasil dari tender tersebut,” ujar Johannes.
Di sisi lain, minat investor terhadap kawasan industri Subang Smartpolitan dinilai masih menunjukkan perkembangan positif meskipun kondisi ekonomi dan geopolitik global menghadirkan tantangan.
SSIA pun terus menyiapkan infrastruktur di kawasan tersebut agar tidak hanya menjadi lokasi industri manufaktur, tetapi juga dapat berkembang sebagai pusat industri bernilai tambah tinggi, inovasi, serta kegiatan penelitian dan pengembangan.
Baca Juga: Pabrik BYD Dibuka, SSIA Incar Efek Domino ke Subang Smartpolitan
Baca Juga: SSIA Bidik Pertumbuhan Pendapatan 60%, Subang Smartpolitan Jadi Penopang
Selain mengejar pertumbuhan dari penjualan lahan, perseroan juga mulai memperkuat pendapatan berulang atau recurring revenue.
Pada Semester I 2026, recurring revenue SSIA mencapai Rp660 miliar. Pendapatan tersebut berasal antara lain dari bisnis hospitality, rental, parking, dan maintenance.
Sumber pendapatan berulang tersebut menjadi salah satu upaya perseroan membangun basis pendapatan yang lebih stabil di luar bisnis penjualan lahan industri.
Secara keseluruhan, SSIA membukukan pendapatan konsolidasian Rp3,3 triliun pada Semester I 2026. Angka tersebut meningkat 58,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bruto perseroan mencapai Rp1,08 triliun, sedangkan EBITDA tercatat Rp692,5 miliar dengan margin EBITDA sebesar 20,7%.
Pada periode yang sama, SSIA membukukan laba bersih Rp262,6 miliar.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: