Kredit Foto: PLN Indonesia Power
PLN Indonesia Power (PLN IP) mengembangkan aset karbon dari proyek peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak. Potensi pengurangan emisi dari proyek tersebut akan dikembangkan menjadi aset karbon yang dapat dimonetisasi dan diperdagangkan.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Second Amendment to Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk proyek Capacity Upgrade of Gunung Salak Geothermal Power Plant Project Indonesia dalam rangkaian INDOEBTKE CONEX 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9/2026) lalu.
Dalam kerja sama tersebut, PLN Indonesia Power diwakili Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga Julita Indah, sementara South Pole AG diwakili Specialist, Business Development Sustainable Technologies - SEA Fadri Mokolintad.
Kerja sama ini melanjutkan kolaborasi PLN IP dengan South Pole AG dalam pengembangan aset karbon yang berasal dari peningkatan kapasitas PLTP Gunung Salak. Pengurangan emisi yang dihasilkan dari proyek tersebut selanjutnya dapat dikembangkan menjadi aset karbon bernilai ekonomi.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan pengembangan aset karbon menjadi salah satu peluang untuk menciptakan nilai tambah dari operasional pembangkit berbasis energi bersih.
“Pengembangan energi baru terbarukan tidak hanya berbicara mengenai penyediaan energi yang lebih bersih, tetapi juga bagaimana setiap potensi pengurangan emisi dapat dikelola menjadi nilai tambah yang berkelanjutan. Melalui pengembangan aset karbon dari PLTP Gunung Salak, kami melihat adanya peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendorong keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia,” tegas Bernadus.
Menurutnya, pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari upaya PLN IP mengoptimalkan pembangkit berbasis energi terbarukan melalui berbagai skema pengembangan.
“Geothermal memiliki potensi besar sebagai sumber energi bersih yang andal. Karena itu, kami terus mendorong berbagai inisiatif yang tidak hanya meningkatkan kinerja aset pembangkit, tetapi juga membuka peluang nilai tambah dari aspek lingkungan dan pengurangan emisi,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan percepatan transisi energi penting dilakukan di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi ketersediaan energi.
Baca Juga: Tiga PLTS PLN IP Masuk Groundbreaking Program 100 GWp
Baca Juga: PLN Energi Gas Gandeng Polda Kaltara Perkuat Pengamanan Fasilitas LNG Tarakan
“Dinamika geopolitik global menunjukkan bahwa ketersediaan energi menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Karena itu, Indonesia perlu terus mendorong kemandirian dan swasembada energi melalui peningkatan pasokan, pembangunan infrastruktur, serta percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ujar Yuliot.
Pengembangan aset karbon tersebut diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi dari pengurangan emisi sekaligus menciptakan insentif bagi keberlanjutan investasi dan pengembangan energi panas bumi.
PLTP Gunung Salak menjadi salah satu aset pembangkit panas bumi yang dikembangkan PLN IP sebagai bagian dari pemanfaatan energi terbarukan dalam mendukung transisi energi Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra