Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bisa Abaikan AS, Rusia dan China Cari Opsi Berdagang Lewat Sungai

        Bisa Abaikan AS, Rusia dan China Cari Opsi Berdagang Lewat Sungai Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rusia, China, dan Kazakhstan tengah mempertimbangkan pengembangan jalur perdagangan baru yang menghubungkan kawasan Asia dengan wilayah Arktik melalui sistem Sungai Irtysh dan Ob.

        Rencana tersebut menawarkan alternatif terhadap jalur perdagangan laut tradisional yang selama ini menjadi bagian penting dalam arus barang global, termasuk Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka.

        Jalur yang dirancang akan memanfaatkan Sungai Irtysh yang mengalir dari China melalui Kazakhstan menuju Rusia. Dari sana, jalur tersebut terhubung dengan Sungai Ob hingga mencapai kawasan Laut Arktik.

        Jika terealisasi, rute ini berpotensi membuka akses baru bagi barang-barang China menuju pelabuhan Arktik Rusia di sekitar Semenanjung Yamal.

        Bagi ketiga negara, proyek tersebut memiliki potensi ekonomi sekaligus nilai strategis. Kazakhstan berpeluang memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas perdagangan melalui sungai.

        Sementara Rusia dapat memperkuat konektivitas dengan kawasan Asia sekaligus meningkatkan pemanfaatan jalur Arktik. Bagi China, jalur Irtysh-Ob dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur laut utama.

        Gagasan menggunakan sistem Sungai Irtysh dan Ob sebagai jalur perdagangan bukan merupakan konsep baru.

        Mengutip Eurasianet, aktivitas perdagangan melalui sistem sungai tersebut pernah mencapai sekitar 9 juta ton per tahun pada 1970-an, ketika Uni Soviet masih berdiri.

        Namun, aktivitas perdagangan kemudian merosot tajam setelah Uni Soviet runtuh pada 1991.

        Dalam beberapa tahun terakhir, Kazakhstan dan Rusia kembali membicarakan kemungkinan menghidupkan jalur perdagangan tersebut. Gagasan itu kemudian mendapat perhatian lebih besar setelah China menunjukkan ketertarikannya terhadap kemungkinan akses menuju jalur Arktik.

        Meski demikian, jalur Irtysh-Ob belum dapat dianggap sebagai pengganti langsung Selat Hormuz maupun Terusan Suez.

        Selat Hormuz tetap menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global, sedangkan Terusan Suez merupakan salah satu koridor utama perdagangan antara Asia dan Eropa.

        Baca Juga: Belum Berani Masuk Daratan Iran, AS Alihkan Medan Pertempuran ke Laut

        Jalur Irtysh-Ob masih membutuhkan investasi besar, waktu panjang, serta koordinasi antara Rusia, China, dan Kazakhstan sebelum dapat beroperasi sebagai jalur perdagangan yang lebih besar.

        Di sisi lain, proyek tersebut menghadapi persoalan alam dan infrastruktur, mulai dari kedalaman sungai, musim dingin, kekeringan, kebutuhan air untuk pertanian hingga dampak perubahan iklim.

        Kondisi itu menciptakan paradoks bagi rencana tersebut. Perubahan iklim dapat membuka peluang lebih besar bagi pelayaran Arktik, tetapi pada saat yang sama dapat memperburuk persoalan ketersediaan air di kawasan Sungai Irtysh.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: