Bukan Investasi Jangka Pendek, Danantara Bidik Portofolio Global dan Cuan Berkelanjutan
Kredit Foto: Danantara
Danantara Investment Management (DIM) menempatkan investasi jangka panjang sebagai fondasi dalam membangun portofolio. Bukan sekadar mengejar kinerja dalam hitungan kuartal atau tahun, lembaga investasi tersebut melihat keberlanjutan portofolio hingga hitungan dekade sebagai ukuran penting keberhasilan investasi.
Managing Director Global Business Development, Corporate Finance & Investments Danantara Investment Management, Djamal Attamimi, mengatakan pendekatan tersebut diperlukan karena investasi yang dilakukan Danantara berkaitan dengan kepentingan jangka panjang dan generasi berikutnya.
“Kalau dari sisi investasi, terutama yang berhubungan dengan Danantara, kita kan melakukan investasi untuk jangka panjang, untuk generasi berikutnya. Jadi, hal yang paling penting itu adalah sustainability daripada portfolio investmentkita. Dan kita nggak bisa melihat dari kuartal ke kuartal atau hanya dari tahunan, tapi kita harus melihat secara dekade,” kata Djamal dalam program Danantara dari Dalam, dikutip Senin (7/9/2026).
Menurut Djamal, orientasi jangka panjang membuat Danantara perlu melihat bagaimana kinerja portofolio berkembang dari waktu ke waktu, bukan hanya menilai keberhasilan berdasarkan capaian jangka pendek.
Pendekatan tersebut kemudian berimplikasi terhadap cara Danantara membangun portofolionya. Untuk menjaga keberlanjutan, diversifikasi menjadi salah satu elemen penting. Portofolio juga tidak cukup hanya berfokus pada sektor atau negara tertentu, tetapi perlu memiliki cakupan global yang merepresentasikan perkembangan ekonomi dunia.
“Jadi artinya nggak cuma fokus di sektor tertentu atau di negara tertentu, tapi kita harus bisa mencakup dan memiliki portofolio yang merepresentasikan komposisi ekonomi secara dunia,” ujar Djamal.
Dari Konsolidasi Aset ke Skala Global
Djamal melihat peran Danantara tidak terlepas dari upaya mengonsolidasikan aset-aset negara. Konsolidasi tersebut dinilai penting karena memberikan skala yang dibutuhkan Indonesia untuk berpartisipasi secara lebih relevan dalam perekonomian global.
Dengan skala yang lebih besar, kontribusi investasi Danantara diharapkan dapat mendukung terciptanya pangsa pasar yang lebih penting bagi Indonesia di pasar dunia.
Namun, Djamal menilai pencapaian tujuan tersebut tidak berlangsung secara instan. Pengembangan usaha membutuhkan tahapan, termasuk penguatan komposisi pegawai dan tim di Danantara Holding, Asset Management, maupun Investment Management.
Di sisi investasi, kebutuhan terhadap skala tersebut berjalan beriringan dengan tuntutan untuk membangun portofolio yang berkelanjutan.
“Dan kita nggak bisa melihat dari kuartal ke kuartal atau hanya dari tahunan, tapi kita harus melihat secara dekade, karena generasi ke depannya itu jangka panjang dan untuk future generations,” katanya.
Karena memiliki horizon yang panjang, Danantara juga perlu mempertimbangkan portofolio yang terdiversifikasi secara geografis. Menurut Djamal, diversifikasi tidak hanya berfungsi menyebar investasi, tetapi juga memungkinkan portofolio mengikuti perubahan dan perkembangan ekonomi global.
Di saat yang sama, strategi tersebut tidak berarti Danantara akan masuk ke semua sektor tanpa fokus. Djamal mengatakan terdapat pendekatan tematik dengan mengikuti tren global yang memiliki prospek jangka panjang.
Ia menyebut teknologi, kesehatan, dan pendidikan sebagai sektor yang penting dalam perspektif tersebut. Setiap peluang investasi tetap akan dinilai satu per satu sebelum Danantara menentukan keterlibatannya.
Cuan dan Dampak Harus Berjalan Bersamaan
Dalam membangun portofolio, Danantara tidak hanya melihat potensi keuntungan finansial. Djamal menyebut terdapat dua mandat yang perlu berjalan bersamaan, yakni sustainable return dan impact.
“Jadi dual mandate kita itu adalah sustainable return dan impact. Dan dua-duanya bisa berjalan bersamaan karena memang untuk generate sustainable return, sebagian sektor yang kita investasikan itu memang harus sektor yang memiliki impact jangka panjang,” ujar Djamal.
Konsep tersebut membuat sektor yang memberikan dampak jangka panjang dapat menjadi bagian dari upaya menghasilkan imbal hasil yang berkelanjutan.
Salah satu sektor yang disebut Djamal adalah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga berpotensi meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Karena alasan tersebut, Danantara perlu memiliki eksposur terhadap sektor AI sebagai bagian dari strategi menghasilkan long term return.
“Untuk kita mengenerate long term return, komponen AI ini menjadi penting karena AI ini memberikan kontribusi dalam bentuk efisiensi terhadap operasional perusahaan. Mau nggak mau, kita harus ada exposure sektor AI tersebut,” kata dia.
Namun, masuk ke sektor yang masih berada pada tahap awal perkembangan membutuhkan pendekatan permodalan yang juga berjangka panjang. Di sinilah fungsi corporate finance menjadi penting dalam menopang strategi investasi.
Struktur Modal Jadi Penentu
Djamal menjelaskan, pengembangan portofolio investasi harus diikuti struktur pendanaan yang sesuai. Danantara perlu menentukan kombinasi sumber modal yang paling optimal, baik melalui ekuitas, utang jangka panjang, maupun kombinasi keduanya.
Pertimbangan tersebut mencakup kapan perusahaan perlu masuk ke pasar untuk melakukan capital raising serta bagaimana menyeimbangkan sisi aset dengan kewajiban.
“Apakah itu nanti melalui equity? Apakah sebagian melalui long term debt? Kombinasi yang terbaik, yang paling optimal seperti apa? Kapan kita ke pasar untuk capital raising? Ini semua dilakukan untuk men-support portofolio investasi yang ada,” ujar Djamal.
Menurutnya, keputusan pendanaan harus sepadan dengan karakter portofolio yang dikembangkan. Dengan demikian, strategi investasi dan strategi permodalan tidak dapat berjalan secara terpisah.
Peran tersebut juga menjadi bagian dari tanggung jawab Djamal di Danantara Investment Management. Ia mengatakan pekerjaannya sehari-hari banyak melibatkan koordinasi dengan tim investasi dan keuangan untuk memastikan aktivitas perusahaan memiliki dukungan pendanaan dan kapitalisasi yang memadai.
Indonesia Dinilai Punya Daya Tarik bagi Investor Global
Di tengah strategi pengembangan portofolio global tersebut, Djamal menilai Indonesia sendiri tetap memiliki daya tarik bagi investor internasional.
Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang sedang tumbuh dengan basis demografi yang produktif. Ia menyebut usia median populasi Indonesia sekitar 30 tahun.
Struktur demografi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung peningkatan produktivitas dan perkembangan sektor ekonomi. Jika produktivitas meningkat dan sektor ekonomi terus berkembang, pendapatan per kapita masyarakat berpotensi meningkat.
Kenaikan pendapatan kemudian dapat mendorong pertumbuhan disposable income dan konsumsi domestik. Pertumbuhan permintaan tersebut pada akhirnya membutuhkan investasi pada berbagai bisnis dan sektor yang menopang kebutuhan masyarakat.
“Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan demand di dalam negeri tentunya perlu dilakukan investasi baik langsung maupun tidak langsung di bisnis-bisnis atau sektor-sektor yang mendukung pertumbuhan permintaan tersebut,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Danantara melihat perannya bukan hanya sebagai penyedia pendanaan, tetapi juga sebagai katalis bagi sektor-sektor yang membutuhkan permodalan.
Djamal mengatakan pertumbuhan permintaan domestik dapat menjadi ruang bagi Danantara untuk berpartisipasi dalam menyediakan pendanaan maupun mendorong perkembangan sektor yang membutuhkan dukungan modal.
Danantara dan Ukuran Keberhasilan Jangka Panjang
Bagi Djamal, ukuran keberhasilan Danantara pada akhirnya tidak hanya terletak pada besarnya investasi yang dapat dilakukan dalam jangka pendek. Keberhasilan institusi tersebut harus dilihat dari kemampuan mempertahankan keberadaannya dan menghasilkan imbal hasil positif secara berkelanjutan pada masa mendatang.
“Keberhasilan Danantara buat saya suksesnya adalah Danantara masih tetap ada dan memberikan return yang positif dan sustainable di masa-masa mendatang,” ujar Djamal.
Dengan pendekatan tersebut, strategi investasi Danantara dibangun di atas tiga lapisan yang saling berkaitan: horizon investasi jangka panjang, diversifikasi portofolio secara global, serta pemilihan sektor tematik yang mampu menghasilkan imbal hasil sekaligus memberikan dampak.
Pengembangan portofolio juga membutuhkan struktur permodalan yang sesuai agar ekspansi investasi dapat berjalan secara berkelanjutan. Di sisi lain, karakteristik Indonesia sebagai pasar dengan populasi produktif dan potensi pertumbuhan konsumsi menjadi salah satu dasar untuk melihat peluang investasi dari perspektif global.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri