Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PR Prabowo Masih Soal Komunikasi, Pakar: Parah Sekali, Tak Seperti Zamannya Jokowi

        PR Prabowo Masih Soal Komunikasi, Pakar: Parah Sekali, Tak Seperti Zamannya Jokowi Kredit Foto: BPMI/Laily Rachev
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengamat Politik Hendri Satrio menilai komunikasi pemerintahan saat ini masih menjadi salah satu persoalan besar yang perlu segera dibenahi oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia bahkan menyebut komunikasi pemerintah saat ini “parah sekali” jika dibandingkan dengan era pemerintahan dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

        Hendri memasukkan komunikasi sebagai satu dari tiga persoalan utama pemerintahan saat ini selain ekonomi dan hukum.

        Baca Juga: Cerita Anak Buah Prabowo Saat Jadi Oposisi Jokowi: Sakit Sekali Rasanya Ketika Hukum Menjadi Alat...

        “Saya menyebut tiga masalah besar di pemerintahan Pak Prabowo itu adalah ekonomi, hukum, dan komunikasi. Komunikasinya parah sekali, tidak seperti zaman Jokowi,” kata Hendri, dikutip Selasa (8/9/2026).

        Menurut Hensa, persoalan komunikasi tersebut berkaitan dengan adanya kesenjangan kualitas antara presiden dan sejumlah menteri di bawahnya.

        Prabowo menurutnya cukup sering harus tampil langsung menghadapi persoalan yang seharusnya dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan oleh pembantunya.

        “Dan menurut saya salah satu hal yang harus segera diperbaiki adalah gap kualitas antara presiden dengan tim di bawahnya, menteri-menterinya,” ujarnya.

        Hendri mengatakan kondisi tersebut memiliki konsekuensi politik bagi Prabowo. Ketika masyarakat kecewa terhadap kebijakan atau kinerja pemerintah, presiden dinilai menjadi pihak yang paling mudah menerima dampaknya.

        “Menurut saya hebatnya presiden saat ini, tapi juga sekaligus kekurangannya, dia terlalu banyak pasang badan atas kekurangan menteri-menterinya,” kata Hensa.

        Menurut dia, situasi tersebut membuat kritik publik terhadap pemerintah lebih cepat mengarah kepada Presiden.

        “Jadi pada saat rakyat marah, rakyat kesel, yang disalahin presiden, bukan menterinya,” ujarnya.

        Hendri kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan pemerintahan Jokowi. Menurutnya, terdapat perbedaan dalam cara beban komunikasi dan kontroversi kebijakan ditangani.

        Ia menilai presiden membutuhkan lebih banyak menteri yang mampu berkomunikasi langsung dengan presiden sekaligus berani tampil ketika muncul persoalan.

        Keberadaan Teddy Indra Wijaya dapat menjadi salah satu contoh. Teddy disebut kerap tampil memberikan penjelasan ketika pemerintah menghadapi masalah.

        “Makanya dia butuh lebih banyak orang yang memang bisa bekerja dan ikut menjaga pemerintahannya, bukan justru menambah beban presiden,” kata Hendri.

        Karena itu, Hendri menilai pembenahan komunikasi tidak cukup hanya dilakukan melalui strategi komunikasi, tetapi juga membutuhkan evaluasi terhadap orang-orang yang menjalankan fungsi pemerintahan.

        Baca Juga: Golkar: Poros Solo dan Poros Cikeas Terang-terangan Pasang Kuda-kuda, Padahal Masih di Kapal Prabowo

        Baginya, kualitas menteri menjadi faktor penting agar presiden tidak terus menjadi pihak yang harus menghadapi sendiri seluruh konsekuensi politik dari kebijakan pemerintah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: