Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Penjualan SIDO Turun 20% Jadi Rp1,47 Triliun, Tolak Angin Jadi Andalan Pemulihan

        Penjualan SIDO Turun 20% Jadi Rp1,47 Triliun, Tolak Angin Jadi Andalan Pemulihan Kredit Foto: Dok. Sido Muncul.
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menghadapi tekanan kinerja pada semester I-2026. Penjualan bersih perseroan turun 20% secara tahunan menjadi Rp1,47 triliun, sementara laba bersih merosot 44% menjadi Rp334 miliar.

        Penurunan laba tersebut turut berdampak pada margin laba bersih SIDO. Hingga paruh pertama 2026, margin laba bersih tercatat 23%, turun dari 33% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

        Manajemen menjelaskan, pelemahan kinerja terutama dipengaruhi proses normalisasi persediaan di tingkat distributor. SIDO melakukan penyesuaian stok produk Tolak Angin Group sejak Februari hingga Mei 2026 dan proses tersebut telah rampung pada akhir Mei.

        Direktur sekaligus Corporate Secretary Sido Muncul, Budiyanto mengatakan normalisasi dilakukan dengan mengurangi penjualan kepada distributor yang masih memiliki persediaan berlebih.

        “Pada kuartal I dan II terjadi normalisasi persediaan, yakni pengurangan penjualan secara disengaja kepada distributor yang mengalami kelebihan stok untuk menyehatkan persediaan di level distributor,” kata Budiyanto.

        Meski penjualan mengalami tekanan, posisi Tolak Angin di pasar masih kuat. Produk tersebut menguasai sekitar 71% pangsa pasar dan memiliki jarak yang cukup lebar dengan pesaing terdekat.

        Memasuki semester II 2026, SIDO mulai mengalihkan fokus pada pemulihan penjualan. Perseroan menilai kondisi persediaan Tolak Angin di tingkat distributor yang kini lebih sehat menjadi pijakan untuk kembali meningkatkan penjualan.

        “Untuk kuartal III dan IV, prioritas kami adalah memulihkan penjualan melalui Tolak Angin yang persediaannya sudah lebih sehat di distributor,” ujarnya.

        Selain mengandalkan pemulihan Tolak Angin, SIDO menyiapkan sumber pertumbuhan baru melalui pengembangan produk. Perseroan mendorong inovasi lewat C+Collagen dan kategori Ready-to-Drink yang mulai dikembangkan sebagai kontributor pertumbuhan.

        SIDO juga memperluas portofolio melalui varian baru Alang Sari Cooling Water. Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat bisnis makanan dan minuman serta menjangkau konsumen yang lebih muda.

        Pasar ekspor menjadi salah satu penopang pertumbuhan di tengah tekanan pasar domestik. Penjualan ekspor inti, di luar minyak atsiri, tumbuh 28% secara tahunan.

        Kontribusi penjualan internasional pun meningkat menjadi sekitar 13% dari total penjualan, dibandingkan 9,7% pada tahun sebelumnya. Produk SIDO saat ini telah tersedia di 34 negara, dengan Malaysia, Filipina, dan Nigeria menjadi beberapa pasar yang menopang pertumbuhan ekspor.

        Dari sisi keuangan, kondisi neraca SIDO masih relatif kuat. Per 30 Juni 2026, kas perseroan tercatat Rp476 miliar, sedikit meningkat dari Rp463 miliar pada akhir 2025.

        Posisi kas tersebut tetap terjaga meski SIDO telah mengembalikan Rp1,41 triliun kepada pemegang saham melalui pembagian dividen dan pembelian kembali saham. Perseroan juga masih tidak memiliki utang.

        Baca Juga: Laba Bank Jatim Melonjak Jadi Rp1,2 Triliun per Juli 2026, Ditopang Ekspansi Bisnis Lewat KUB

        Baca Juga: HDFA Berbalik Laba Rp1,53 Miliar, Sebelumnya Rugi Rp82 Miliar

        Baca Juga: Catatkan Penjualan Rp8,2 Triliun, Laba Bersih MDLA Tumbuh 12,6% di Semester I 2026

        Untuk tahun penuh 2026, dia memperkirakan penjualan akan turun sekitar 10%. Proyeksi tersebut dipengaruhi proses normalisasi persediaan distributor pada semester pertama serta kondisi eksternal yang masih menantang.

        Selain penyesuaian stok, perseroan menghadapi perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif serta kondisi cuaca yang tidak seragam. Untuk menopang kinerja ke depan, SIDO mengandalkan distribusi berbasis permintaan, inovasi produk, ekspansi pasar ekspor, dan pengendalian biaya.

        Dengan normalisasi persediaan yang telah selesai, perseroan memasuki semester II 2026 dengan fokus memulihkan penjualan Tolak Angin sekaligus meningkatkan kontribusi produk baru dan pasar internasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: