Kredit Foto: Dok. Sido Muncul.
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) terus memperbesar kontribusi pasar internasional di tengah tekanan penjualan di pasar domestik. Hingga semester I 2026, penjualan ekspor perseroan tumbuh 28% secara tahunan, dengan produk Sido Muncul kini telah dipasarkan di 34 negara.
Direktur sekaligus Corporate Secretary Sido Muncul Budiyanto mengatakan pasar ekspor menjadi salah satu sumber pertumbuhan perseroan. Hingga semester I 2026, penjualan internasional telah menyumbang sekitar 13% terhadap total penjualan SIDO.
"Pertumbuhan penjualan ekspor kami secara year on year di semester pertama bertumbuh 28 persen. SIDO juga telah hadir di 34 negara dan saat ini penjualan ekspor berkontribusi 13 persen terhadap total penjualan," ujar Budiyanto dalam Public Expose 2026 secara virtual, Rabu (9/9/2026).
Pertumbuhan ekspor tersebut menjadi salah satu penopang kinerja SIDO ketika penjualan secara keseluruhan masih tertekan. Pada semester I 2026, penjualan bersih perseroan tercatat Rp1,47 triliun, turun 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tekanan juga berlanjut ke laba bersih yang merosot 44% secara tahunan menjadi Rp334 miliar. Margin laba bersih SIDO pada semester I 2026 tercatat 23%.
Dia menjelaskan, penurunan kinerja terutama dipengaruhi proses normalisasi persediaan produk Tolak Angin Group di tingkat distributor yang berlangsung pada Februari hingga Mei 2026. Program tersebut dilakukan untuk menyehatkan stok distributor dan telah rampung pada akhir Mei.
Di tengah penyesuaian pasar domestik tersebut, ekspansi internasional memberikan ruang pertumbuhan bagi SIDO. Dengan produk yang telah menjangkau 34 negara, perseroan terus berupaya meningkatkan kontribusi pasar luar negeri terhadap penjualan.
Sementara itu, produk utama SIDO, Tolak Angin, masih mempertahankan posisi kuat di pasar domestik dengan pangsa sekitar 71%. Setelah proses normalisasi persediaan distributor selesai, manajemen optimistis penjualan dapat kembali meningkat pada paruh kedua 2026.
Dia menargetkan kinerja perseroan pada kuartal III dan IV 2026 setidaknya dapat menyamai capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pemulihan tersebut diharapkan ditopang oleh kondisi persediaan distributor yang lebih sehat serta penguatan penjualan produk utama.
Baca Juga: Penjualan SIDO Turun 20% Jadi Rp1,47 Triliun, Tolak Angin Jadi Andalan Pemulihan
Baca Juga: ADHI Karya Bukukan Kontrak Baru Rp8,3 Triliun hingga Juli 2026, Naik 118%
Baca Juga: Kerap Bermasalah, Adhi Karya Pangkas Seluruh Anak Usaha
Selain mengejar pemulihan pasar domestik, perseroan juga akan terus mengembangkan pasar internasional sebagai sumber pertumbuhan baru. Pertumbuhan ekspor sebesar 28% pada semester I-2026 menunjukkan masih adanya peluang bagi SIDO untuk memperbesar bisnis di luar negeri.
Di sisi lain, SIDO tetap mempertahankan kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham. Dalam beberapa tahun terakhir, perseroan mencatat rata-rata dividend payout ratio lebih dari 92%.
Untuk tahun buku 2025, sekitar 90% laba perseroan dikembalikan kepada pemegang saham dengan total nilai Rp1,41 triliun. Nilai tersebut berasal dari buyback saham Rp300 miliar, dividen interim Rp660 miliar, dan dividen final Rp450 miliar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan