Kredit Foto: ITMG
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat kenaikan biaya tambang di luar royalti menjadi US$61 per ton pada kuartal II-2026, dari US$57 per ton pada kuartal I-2026. Kenaikan tersebut terutama dipicu meningkatnya biaya penambangan seiring naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).
Direktur PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Yulius Kurniawan Gozali, mengatakan harga bahan bakar pada kuartal II/2026 juga lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
“Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya penambangan seiring dengan kenaikan daripada harga bahan bakar minyak,” ujar Yulius dalam Public Expose Live 2026 ITMG, Rabu (9/9/2026).
Kenaikan biaya tersebut terjadi ketika rata-rata harga jual batu bara ITMG turut mengalami peningkatan. Pada kuartal II/2026, harga jual rata-rata batu bara mencapai US$82,7 per ton, naik dari US$79,4 per ton pada kuartal sebelumnya.
Secara keseluruhan, biaya ITMG termasuk royalti meningkat menjadi US$70 per ton pada kuartal II/2026, dari US$66 per ton pada kuartal I/2026. Sementara itu, sepanjang semester I/2026, total biaya perseroan mencapai US$68 per ton, naik dari US$64 per ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kalau kita lihat dari sisi biaya, total biaya di luar royalty kita pada triwulan kedua 2026 itu meningkat menjadi sebesar US$61 per ton dari US$57 per ton pada kuartal sebelumnya,” kata Yulius.
Dari sisi operasional, rasio kupas atau stripping ratio ITMG pada kuartal II/2026 tercatat 10,3 kali, relatif tidak berubah dibandingkan kuartal sebelumnya. Perseroan juga menyebut biaya depresiasi, amortisasi, serta biaya penjualan, umum, dan administrasi (SG&A) masih relatif terkendali.
Di tengah kenaikan biaya tersebut, pendapatan ITMG pada kuartal II/2026 tercatat US$503 juta, naik tipis dari US$498 juta pada kuartal I/2026. Namun, volume penjualan batu bara turun menjadi 6,1 juta ton dari 6,3 juta ton.
Baca Juga: Laba Bersih ITMG Naik 17% Capai US$110 Juta di Semester I-2026
Baca Juga: Produksi Batu Bara Naik, ITMG Kantongi Pendapatan Rp17,8 Triliun
Kondisi tersebut turut menekan profitabilitas perseroan. Laba kotor ITMG turun menjadi US$124 juta pada kuartal II/2026, dari US$133 juta pada kuartal sebelumnya. Laba operasional tercatat US$66 juta dengan margin 13%, sedangkan EBITDA mencapai US$89 juta dengan margin 18%.
Untuk mengantisipasi kenaikan biaya bahan bakar, ITMG melakukan efisiensi operasional, termasuk menekan konsumsi BBM dan memastikan ketersediaan pasokan.
“Pertama mungkin kita selalu melakukan efisiensi operation, terutama dalam hal mencoba untuk mengurangi konsumsi bahan bakar kita dan juga terutama memastikan bahwa supply daripada bahan bakar tersebut tetap tersedia,” tutup Yulius.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: