Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di awal perdagangan hari ini. Jumat (11/9/2026). Mata uang Garud dibuka di level Rp17.585 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,22% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.547 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif. Namun tetap melemah pada rentang Rp17.540 - Rp17.590 per dolar AS.
Ibrahim menuturkan, pelemahan rupiah dipicu oleh tingginya harga minyak mentah. Ini membuka kekhawatiran utama pada beberapa sektor diantaranya, kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG)..
"Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat. Dan apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, yang dapat memperlemah nilai tukar mata uang domestik," kata Ibrahim kepada wartawan.
Baca Juga: Program Rekening Massal Bisa Nol Rupiah, Kenapa Harus Rp11 Triliun?
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.547 per Dolar AS, Harga Minyak Jadi Sorotan
Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban APBN, hal ini justru akan memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Pemerintah umumnya, kata Ibrahim, mengandalkan bantal fiskal (fiscal buffer) seperti kenaikan pendapatan dari ekspor komoditas lain (rejeki nomplok/windfall) untuk menjaga agar anggaran tetap aman. Namun, ketidakpastian pasar global membuat kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadi prioritas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: