Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Penjual Mi Ayam Sakit Tertolak KIS karena Masuk Desil 8: Kesalahan Negara Jadi Soal Hidup Mati

        Penjual Mi Ayam Sakit Tertolak KIS karena Masuk Desil 8: Kesalahan Negara Jadi Soal Hidup Mati Kredit Foto: Eka Hospital
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Jurnalis sekaligus pegiat media sosial Ahmad Arif menyampaikan keprihatinan atas nasib Surono (53), pedagang mi ayam keliling asal Blora, Jawa Tengah, yang tengah sakit namun gagal mendapat layanan kesehatan gratis akibat kesalahan administratif.

        Surono seharusnya berhak atas bantuan pemerintah melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS), tetapi kepesertaannya dinonaktifkan karena sistem mendata keluarganya masuk Desil 8 (kategori masyarakat menuju sejahtera).

        "Turut prihatin. Penjual mi ayam yang sedang sakit seharusnya mendapat pertolongan, bukan justru tersandung sistem karena KIS-nya nonaktif dan dirinya dimasukkan ke desil 8. Dan ini puncak gunung es. Yang mengalami nasib seperti Ibu ini pasti banyak, hanya kebetulan saja ini yang terekspos media," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Jumat (11/9).

        Arif menegaskan, masalah ini bukan sekadar administrasi, melainkan soal akurasi data negara yang bisa menentukan hidup dan mati warga.

        "Tentang bagaimana kesalahan atau buruknya pemutakhiran data negara bisa menentukan siapa yang mendapat layanan kesehatan dan siapa yang tidak. Padahal, dalam urusan kesehatan, kesalahan data bahkan bisa menjadi soal hidup dan mati. Jangan bebankan kegagalan sistem kepada orang yang sedang sakit," tegasnya.

        Ia menekankan, negara wajib memastikan data benar, mutakhir, dan menyediakan jalur cepat bagi warga yang salah terklasifikasi.

        Kondisi Surono

        Surono sudah lebih dari sebulan berhenti berjualan karena sakit komplikasi (diabetes, hipertensi, asam urat, kolesterol). Akibat gerobak mi ayamnya menganggur, pemasukan keluarga terhenti dan mereka hanya mengandalkan sisa tabungan.

        Masalah terungkap saat istrinya, Puji, membawa Surono berobat ke Puskesmas Ngawen. Petugas mendapati KIS miliknya sudah tidak aktif, sehingga mereka harus membayar mandiri sekitar Rp100.000 setiap kali berobat.

        Baca Juga: Soal Desil Pertalite, Pertamina Masih Menunggu Keputusan Pemerintah

        Puji mengaku heran karena sehari-hari keluarga mereka hanya bergantung pada penghasilan dari jualan mi ayam keliling. Namun, data di Mall Pelayanan Publik (MPP) Blora menunjukkan kepesertaan KIS gratis (PBI) Surono hangus akibat masuk Desil 8.

        Tindak Lanjut Pemerintah

        Setelah kasus ini mencuat, pihak Kecamatan Ngawen bersama Dinas Sosial Blora dan BPJS langsung membantu proses pengajuan penurunan status desil keluarga Surono agar KIS dapat segera dipulihkan dan kembali aktif.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: