Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Pertamina Patra Niaga masih mengandalkan pasokan bioetanol dari PT Energi Agro Nusantara atau Enero di Mojokerto, Jawa Timur, untuk mendukung distribusi Pertamax Green 95, bensin dengan campuran etanol 5 persen atau E5.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan Pertamax Green 95 saat ini masih dipasarkan terbatas di Pulau Jawa. Produk tersebut tersedia di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, serta sebagian wilayah DKI Jakarta.
“Pertamax Green disuplai dari terminal Surabaya, karena memang untuk produksi etanolnya masih disuplai melalui Enero, perusahaan di Mojokerto yang memproduksi etanol,” ujar Eko dalam Pertamina Media Expose Journey 2026 di Fuel Terminal Rewulu, Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).
Enero merupakan anak usaha PT Perkebunan Nusantara I atau PTPN I yang mengoperasikan pabrik bioetanol di Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Perusahaan tersebut berdiri pada 5 Juni 2013.
Pabrik Enero mengolah molase atau tetes tebu, produk samping dari industri gula, menjadi bioetanol multigrade.
Produk tersebut mencakup etanol fuel grade dengan tingkat kemurnian 99,5 persen yang dapat digunakan sebagai bahan campuran bahan bakar. Pengolahan limbah organiknya juga menghasilkan biogas melalui fasilitas anaerobic digester.
Kapasitas desain pabrik tersebut mencapai 100 kiloliter bioetanol per hari atau sekitar 30.000 kiloliter per tahun. Angka itu merupakan kapasitas desain fasilitas, bukan realisasi produksi aktual tahun berjalan.
Eko mengatakan Pertamax Green 95 menjadi tahap awal penggunaan bahan bakar nabati berbasis etanol pada segmen bensin. Saat ini, pemerintah masih menggodok kebijakan perluasan campuran etanol untuk produk gasoline.
“Rencananya juga saat ini pemerintah sedang menggodok kebijakannya dan insyaallah mungkin dalam 1–2 tahun ke depan semua produk gasoline akan berbasis etanol,” katanya.
Menurut Eko, PPN menyiapkan sarana penerimaan, penyimpanan, dan pencampuran atau blending etanol di terminal BBM. Persiapan tersebut dibutuhkan karena penanganan etanol memerlukan tangki dan fasilitas khusus sebelum dicampurkan ke produk bensin.
“Kita sedang menyiapkan kesiapan dari sisi sarana dan prasarana di terminal. Handling-nya harus benar-benar bagus dan kita harus menyiapkan tangki maupun sarana blending,” tambah Eko.
Pertamina juga mempertimbangkan penambahan terminal penerimaan dan pencampuran etanol di wilayah Jawa Barat, Jakarta dan sekitarnya, serta Jawa Tengah. Langkah itu disebut untuk memudahkan distribusi produk bensin beretanol di Pulau Jawa.
Selain infrastruktur hilir, perluasan campuran etanol juga membutuhkan kepastian tambahan pasokan. Eko menyebut terdapat rencana pengembangan tiga hingga empat pabrik etanol baru untuk mendukung ekosistem bahan bakar nabati apabila kebijakan bergerak dari E5 menuju E10 dan E20.
“Saat ini memang kita baru di E5, apakah nanti ini sedang digodok dan disiapkan kebijakannya oleh Kementerian ESDM nanti berbasis E5, E10, kemudian sampai E20,” kata Eko.
Kebutuhan tambahan sumber bioetanol tersebut juga menjadi perhatian pemerintah.
Baca Juga: Pemerintah Butuh Tambahan 15 Pabrik Bioetanol pada 2027
Baca Juga: Penjualan Pertamax Green Naik 267%, Pertamina Siapkan Perluasan Bioetanol
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah menargetkan penambahan 15 pabrik bioetanol pada 2027 dengan kapasitas produksi sekitar 373.000 kiloliter.
“Tahun depan kita berharap adanya tambahan 15 pabrik untuk bisa memproduksi 373 ribu kiloliter bioetanol,” kata Eniya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9/2026).
Eniya menyebut kebutuhan bioetanol murni untuk pencampuran bensin nonsubsidi diproyeksikan mencapai 333.000 kiloliter pada 2026 dalam skema E5.
Kebutuhan itu diperkirakan meningkat menjadi 681.000 kiloliter pada 2027 apabila campuran dinaikkan menjadi E10, lalu mencapai sekitar 1,39 juta kiloliter pada 2028 jika penggunaan etanol bergerak menuju E20.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: