Kredit Foto: FORU
PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) resmi memasuki tahap pelaksanaan right issue jumbo senilai maksimal Rp27,1 triliun. Aksi korporasi tersebut langsung mendapat respons kuat dari pasar, dengan saham FORU menyentuh Auto Reject Atas (ARA) 25% ke level Rp4.650 per saham pada awal perdagangan Senin (14/9/2026).
Lonjakan tersebut terjadi setelah perseroan resmi memperoleh tanggal efektif pernyataan pendaftaran Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I dari OJK pada 11 September 2026. Sebelumnya, perseroan juga telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 22 Juli 2026.
Dalam aksi tersebut, FORU menawarkan sebanyak-banyaknya 215,096 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham dan Harga pelaksanaan Rp126 per saham. Jumlah tersebut atau sekitar 99,79% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah pelaksanaan PMHMETD I.
Setiap pemegang 100 saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 23 September 2026 pukul 16.00 WIB akan memperoleh 46.235 HMETD. Setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegang saham untuk membeli satu saham baru dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham.
Harga pelaksanaan tersebut jauh di bawah harga saham FORU di pasar pada awal perdagangan hari ini. Kondisi itu membuat right issue FORU menjadi salah satu aksi korporasi yang mendapat perhatian besar investor.
Bawa Borneo Prima Masuk ke FORU
Di balik right issue jumbo tersebut, FORU tengah melakukan perubahan besar terhadap arah bisnisnya. Sebagian besar dana dan hasil inbreng dari aksi tersebut akan digunakan untuk memperoleh 49% saham PT Borneo Prima (BP), perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan batu bara.
FORU akan memperoleh 10.780 saham Seri A Borneo Prima dengan nilai sekitar Rp20,82 triliun melalui skema penyetoran modal dalam bentuk selain uang atau inbreng. Saham Borneo Prima tersebut disetorkan oleh pengendali FORU, IMR Asia Holding Pte Ltd (IMR AH), sebagai bagian dari pelaksanaan HMETD.
Dengan skema tersebut, right issue FORU bukan sekadar aksi penghimpunan dana dari investor publik. Perseroan sekaligus memasukkan aset pertambangan ke dalam struktur bisnisnya dan mulai membangun eksposur yang lebih besar terhadap sektor batu bara.
Sementara itu, dana tunai yang diperoleh dari pelaksanaan HMETD akan disalurkan kepada Borneo Prima dalam bentuk pinjaman. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja operasional pertambangan dan menunjang kegiatan produksi.
Langkah ini menandai perubahan signifikan bagi FORU yang selama ini dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di bidang media dan jasa pemasaran. Melalui transaksi tersebut, perseroan mulai mengarahkan bisnisnya ke sektor pertambangan.
Baca Juga: Bank Kasikorn (BMAS) Siap Right Issue Rp1 Triliun, Ini Penggunaannya
Baca Juga: KOTA Bidik Dana Rp4,4 Triliun dari Right Issue, Siapkan Akuisisi Lahan 571 Hektar
IMR Asia Holding sebagai pemegang saham pengendali FORU juga menjadi pihak utama dalam pelaksanaan right issue. Pengendali yang sebelumnya memiliki sekitar 76,81% saham FORU berkomitmen melaksanakan 165,216 miliar HMETD.
Namun, partisipasi tersebut tidak seluruhnya dilakukan dengan setoran tunai. IMR Asia Holding menggunakan 49% kepemilikannya di Borneo Prima sebagai setoran modal melalui mekanisme inbreng.
Dengan demikian, transaksi tersebut sekaligus mengubah komposisi aset dan sumber bisnis FORU. Kepemilikan di Borneo Prima nantinya menjadi salah satu aset strategis dalam transformasi bisnis perseroan.
Risiko Dilusi Jadi Perhatian
Di tengah antusiasme pasar yang mendorong saham FORU menyentuh ARA, investor tetap perlu mencermati besarnya potensi dilusi dari aksi korporasi tersebut.
Jumlah saham baru yang diterbitkan mencapai 215,096 miliar saham, atau setara sekitar 99,79% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah PMHMETD I. Artinya, pemegang saham lama yang tidak menggunakan haknya berpotensi mengalami dilusi yang sangat besar.
Maka dari itu, pergerakan saham FORU setelah right issue perlu dilihat tidak hanya dari respons pasar, tetapi juga dari realisasi aksi korporasi dan perubahan struktur bisnis perseroan.
Pasar selanjutnya akan mencermati bagaimana FORU mengintegrasikan Borneo Prima ke dalam bisnis perseroan, termasuk perkembangan operasional pertambangan, penggunaan dana hasil right issue, serta kontribusi bisnis baru tersebut terhadap pendapatan dan laba.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan