- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Pergantian Menkeu Jadi Sentimen Baru, Saham Bank dan Properti Berpeluang Menguat
Kredit Foto: Uswah Hasanah
Suahasil Nazara resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9/2026). Pergantian tersebut menjadi salah satu sentimen yang mewarnai perdagangan saham, dengan saham-saham perbankan, khususnya kelompok bank besar, bergerak menguat menjelang penutupan perdagangan.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta menilai penguatan saham bank jumbo tersebut sangat mungkin berkaitan dengan meredanya ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal.
Sebelumnya, pasar sempat merespons negatif ketidakpastian tersebut. Pergantian Menteri Keuangan kini justru dipandang membuka kembali ekspektasi terhadap kesinambungan kebijakan fiskal serta koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter.
"Menurut saya, penguatan saham big banks menjelang penutupan memang sangat mungkin berkaitan dengan sentimen pergantian Menteri Keuangan, terutama karena pasar sebelumnya sempat merespons negatif ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal," kata dia kepada Warta Ekonomi, Senin (14/9/2026).
Sejalan dengan pergantian tersebut, IHSG juga berbalik arah. Indeks yang sebelumnya sempat terkoreksi sekitar 2% kemudian bergerak menguat menjelang penutupan. Pembalikan arah ini turut diikuti akumulasi pada sejumlah saham perbankan besar, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
Meski demikian, dia mengaku penguatan saham bank pada perdagangan kali ini belum cukup untuk disebut sebagai awal reli panjang. Pergerakan selanjutnya masih perlu dikonfirmasi oleh kinerja fundamental serta volume perdagangan.
"Namun, saya melihat kenaikan hari ini masih perlu dikonfirmasi oleh fundamental dan volume perdagangan berikutnya, sehingga belum tepat apabila langsung dianggap sebagai awal rally panjang," jelasnya.
Dari sisi fundamental, prospek saham perbankan dinilai masih konstruktif, meski tetap selektif. Pertumbuhan kredit pada Juli 2026 mencapai 13,58% secara tahunan, sementara kondisi permodalan industri perbankan masih solid.
Sejumlah katalis yang akan menjadi perhatian investor ke depan mencakup pertumbuhan kredit, stabilisasi atau perbaikan net interest margin (NIM), penurunan cost of credit, kualitas aset, biaya dana, arah BI-Rate, stabilitas rupiah, hingga potensi kembali masuknya arus dana asing.
Bank Indonesia (BI) saat ini mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Di sisi lain, kebijakan makroprudensial dan berbagai insentif likuiditas tetap menjadi instrumen untuk mendorong pertumbuhan kredit.
Bagi saham sektor properti, kesinambungan kebijakan fiskal dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi juga menjadi faktor yang perlu dicermati investor.
Apabila kebijakan pemerintah selanjutnya dipersepsikan lebih pro-pertumbuhan dan mampu mempercepat stimulus ekonomi, sektor yang sensitif terhadap aktivitas domestik, termasuk properti, berpotensi memperoleh sentimen positif.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Diisukan Kena Reshuffle, Ini Dampaknya ke IHSG
Baca Juga: IHSG Rebound, Saham Big Banks Jadi Penopang di Tengah Pergantian Menkeu
Baca Juga: Saham Bank Jumbo Rebound Usai Pergantian Menkeu, BRI hingga BCA Naik Kencang
Namun, respons sektor tersebut tetap akan bergantung pada arah kebijakan pemerintah serta kondisi daya beli masyarakat.
Lanjut dia menyatakan, momentum saham bank mulai lebih menarik setelah mengalami tekanan harga sebelumnya. Namun, strategi yang dinilai lebih tepat adalah melakukan akumulasi secara bertahap, bukan masuk secara agresif sekaligus.
"Setelah tekanan harga sebelumnya, valuasi sejumlah big banks menjadi lebih atraktif, sementara fundamentalnya relatif tetap solid. Dalam konteks risk-reward, BBCA dan BMRI cenderung lebih defensif karena kualitas aset dan struktur pendanaannya kuat, sedangkan BBRI dan BBNI memiliki sensitivitas yang lebih besar terhadap pemulihan ekonomi, ekspansi kredit, dan normalisasi credit cost," uja dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: