Bukan Hanya Soal Kabinet, Rotasi Menkeu jadi Upaya Menjaga Stabilitas Kurs hingga Sovereign Credit Rating
Kredit Foto: Istimewa
Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara pada 14 September 2026 dinilai membawa konsekuensi lebih luas dari sekadar perubahan posisi di kabinet. Di tengah ketidakpastian global dan kebutuhan pembiayaan pembangunan yang besar, pergantian bendahara negara menjadi sinyal penting bagi pasar.
Praktisi Manajemen Risiko dan Badan Pelaksana/CIO BPKH 2017–2022 Dr. A. Iskandar Zulkarnain menilai ada empat hal yang perlu menjadi perhatian, yakni nilai tukar, kepercayaan investor, sovereign credit rating, dan kepercayaan terhadap APBN.
Menurut Iskandar, keempat faktor tersebut saling berkaitan. Pelemahan kepercayaan terhadap kondisi fiskal dapat merambat dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) ke nilai tukar, biaya utang, hingga ruang fiskal pemerintah.
“APBN bukan hanya soal berapa besar negara bisa membelanjakan uang. Yang sama pentingnya adalah seberapa besar pasar percaya pemerintah mampu membiayai dan mengelolanya secara berkelanjutan,” kata Iskandar.
Suahasil bukan nama baru di lingkungan Kementerian Keuangan. Sebelum menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019, ekonom Universitas Indonesia itu pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal.
Setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan, Suahasil menegaskan pentingnya menjaga kredibilitas APBN dan memastikan defisit tetap berada di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Iskandar menyebut tantangan awal yang perlu diperhatikan adalah menjaga stabilitas rupiah. Ketika ketidakpastian global meningkat, arus modal dapat bergerak cepat. Persepsi investor terhadap kebijakan fiskal turut memengaruhi keputusan untuk membeli, menahan, atau melepas aset dalam denominasi rupiah.
Karena itu, Menteri Keuangan tidak hanya berperan mengelola penerimaan dan belanja negara. Posisi tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian.
“Pasar sering bereaksi sebelum kebijakan dilaksanakan. Satu pernyataan bisa mengubah ekspektasi terhadap defisit, penerbitan SBN, bahkan rupiah,” ujarnya.
Iskandar menilai Purbaya membawa pendekatan yang lebih ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pendekatan tersebut memiliki rasionalitas ekonomi, tetapi tantangannya menjadi lebih besar ketika biaya dana global tinggi dan investor semakin sensitif terhadap risiko fiskal.
Sementara itu, Suahasil dinilai membawa karakter yang berbeda. Pengalamannya di bidang kebijakan fiskal dapat dibaca sebagai sinyal bahwa akselerasi program pemerintah tetap akan dibingkai dalam disiplin APBN.
Kondisi tersebut menjadi penting karena pemerintah membutuhkan pembiayaan besar untuk menjalankan berbagai program prioritas. SBN juga menjadi salah satu instrumen utama pembiayaan APBN.
Menurut Iskandar, semakin kuat kepercayaan terhadap kondisi fiskal, semakin besar peluang pemerintah memperoleh pembiayaan dengan biaya yang efisien.
“Program pemerintah harus tetap jalan. Tetapi semakin dipercaya fiskalnya, semakin efisien biaya pembiayaannya. Trust ultimately affects cost of fund,” kata Iskandar.
Baca Juga: Dukung Purbaya Dicopot, Mahfud MD: Memang Dulu Kita Terlalu Besar Harapannya
Selain kurs dan investor, Iskandar menyoroti pentingnya menjaga sovereign credit rating Indonesia. Indonesia masih berada dalam kategori investment grade. Namun, outlook negatif dari Fitch dan Moody’s menjadi pengingat bahwa kredibilitas dan prediktabilitas kebijakan fiskal tetap menjadi perhatian pasar.
Menurut Iskandar, peringkat kredit negara tidak hanya berkaitan dengan reputasi. Persepsi risiko juga dapat memengaruhi yield SBN dan biaya refinancing utang pemerintah.
“Dengan stok utang yang sangat besar, perubahan kecil pada biaya dana dapat menjadi material. Menjaga rating bukan soal gengsi, tetapi menjaga agar APBN tidak semakin terbebani biaya bunga,” katanya.
Di sisi lain, kepercayaan menjadi aset yang dibangun dalam waktu panjang. Reputasi fiskal Indonesia terbentuk melalui disiplin defisit, pengelolaan utang, dan komunikasi kebijakan yang konsisten.
Namun, kepercayaan tersebut dapat tergerus lebih cepat ketika pasar melihat adanya ketidakpastian mengenai arah kebijakan.
Pengalaman Suahasil di Kementerian Keuangan serta keterlibatannya dalam pemerintahan Prabowo dinilai menempatkannya pada posisi strategis. Ia dianggap memiliki pengalaman memahami kebutuhan program pemerintah sekaligus perspektif pasar.
“Ini bukan soal Purbaya gagal atau Suahasil lebih hebat. Pertanyaannya adalah siapa yang paling sesuai dengan fase ekonomi yang sedang kita hadapi,” ujar Iskandar.
Menurut dia, Purbaya membawa semangat akselerasi pertumbuhan. Kini, Suahasil menghadapi tantangan untuk memastikan akselerasi tersebut tetap memperoleh pembiayaan yang kredibel, terukur, dan efisien.
Iskandar mengibaratkan kurs, investor, rating, dan trust sebagai empat roda kendaraan APBN.
Baca Juga: Reshuffle Purbaya Baru Permulaan, Ini Menteri yang Diprediksi Menyusul
“Negara tidak bisa ngebut kalau bannya kempes. Kalau satu saja terganggu, kendaraan APBN bisa oleng,” katanya.
Karena itu, pergantian Menteri Keuangan tidak harus dimaknai sebagai langkah mundur dari agenda pertumbuhan. Tantangannya adalah menjaga agar program pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan disiplin fiskal dan kepercayaan pasar.
“Pada akhirnya APBN yang kuat bukan yang paling besar belanjanya, melainkan yang programnya berjalan dan tetap dipercaya. Growth needs money, but cheap money needs trust,” pungkas Iskandar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: