AS Justru 'Kocar-Kacir' Hadapi Gelombang Baru Perang Hadapi Iran
Kredit Foto: Antara/Budi Candra Setya
Berlanjutnya perang Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menimbulkan tekanan terhadap kesiapan militer AS. Sejumlah pejabat AS yang mengetahui perkembangan konflik memperingatkan beban tersebut dapat semakin berat apabila perang terus berlangsung.
Peringatan itu disampaikan kepada The Intercept, sebagaimana dikutip Al Mayadeen, Kamis (17/9/2026). Persoalan yang dihadapi militer AS mencakup persediaan amunisi, korban jiwa, pemeliharaan kapal, pengerahan pasukan dalam waktu panjang hingga kebutuhan logistik.
Salah satu pejabat bahkan memperingatkan tekanan yang terus meningkat dapat mengganggu kemampuan militer AS untuk mempertahankan operasi perang secara efektif.
Tantangan tersebut disebut semakin kompleks setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan dan kapal perang AS di kawasan Timur Tengah. Persediaan amunisi pertahanan juga dilaporkan terus menipis.
Di saat yang sama, militer AS menghadapi peningkatan korban, kebutuhan pemeliharaan kapal, pengerahan pasukan berkepanjangan dan persoalan logistik yang semakin rumit. Kondisi tersebut turut disebut berdampak terhadap moral serta kesiapan pasukan.
Laporan The Intercept menyebut kemampuan militer AS untuk beroperasi dalam kapasitas penuh telah mengalami gangguan sejak jam-jam awal perang. Seorang pejabat juga menilai pemerintahan Presiden Donald Trump tidak memperkirakan kemampuan militer Iran secara tepat.
Pandangan tersebut bertolak belakang dengan sejumlah pernyataan optimistis dari pemerintahan Trump mengenai perkembangan konflik. Trump sebelumnya menggambarkan penghancuran angkatan laut Iran sebagai salah satu pencapaian penting dalam perang.
Namun, pejabat yang mengetahui kondisi di lapangan menggambarkan tekanan yang masih dihadapi pasukan AS. Salah seorang pejabat juga menolak anggapan bahwa Iran akan segera mengalami keruntuhan.
Laporan tersebut menyebut Iran masih mampu melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah. Kondisi ini terjadi meskipun pemerintah AS sebelumnya menyatakan kemampuan militer Iran telah mengalami kerusakan berat.
Tekanan terhadap militer AS juga terlihat dari jumlah personel yang masih ditempatkan di kawasan Timur Tengah.
Laporan Stars and Stripes yang mengutip perkiraan Congressional Budget Office (CBO) menyebut lebih dari 50.000 personel militer AS masih dikerahkan di kawasan tersebut untuk mendukung perang.
Hingga pertengahan September, sebanyak 18 anggota militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 800 lainnya terluka.
Baca Juga: Perang Tarif Memanas, Warga Kanada Ramai-Ramai Boikot Produk Amerika
Konflik yang berlangsung lebih lama juga meningkatkan beban pembiayaan. CBO memperkirakan perang telah menghabiskan sekitar 38 miliar dolar AS.
Jika konflik berlanjut dengan intensitas lebih tinggi seperti yang terjadi pada Juli, biaya tambahan diperkirakan dapat mencapai sekitar 3 miliar dolar AS per bulan.
Biaya tersebut antara lain berasal dari meningkatnya jam terbang pesawat, kerugian peralatan dan tambahan kebutuhan bahan bakar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: