Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AirAsia Goyang usai Rugi Rp3,39 T, Malaysia Bakal Gaet Batik Air dan Malaysia Airlines

        AirAsia Goyang usai Rugi Rp3,39 T, Malaysia Bakal Gaet Batik Air dan Malaysia Airlines Kredit Foto: Antara/Fikri Yusuf
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah Malaysia mulai menyiapkan skenario untuk menjaga konektivitas penerbangan domestik jika tekanan keuangan AirAsia semakin memburuk. Pemerintah disebut telah meminta Malaysia Airlines dan Batik Air Malaysiamengkaji kemampuan mereka untuk menyerap pangsa pasar domestik yang saat ini dikuasai AirAsia.

        Pembahasan antara pemerintah, Kementerian Keuangan, Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB), Malaysia Airlines, dan Batik Air disebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari scenario planning sembari pemerintah memantau kondisi keuangan AirAsia.

        AirAsia menguasai sekitar 40% pasar penerbangan Malaysia secara keseluruhan dan 60% penerbangan domestik. Besarnya pangsa tersebut membuat kondisi keuangan maskapai menjadi perhatian pemerintah karena berkaitan dengan kapasitas penerbangan dan konektivitas masyarakat.

        Mengutip Reuters, dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan Malaysia Airlines dan Batik Air menyatakan kesediaan memperluas operasi secara organik untuk menyerap rute dan penumpang AirAsia, bukan mengambil alih keseluruhan bisnis maskapai tersebut.

        Namun, jika ekspansi dilakukan dalam skala besar, kedua maskapai disebut mensyaratkan pengambilalihan sekaligus atas kontrak sewa pesawat AirAsia. Tanpa pesawat yang tersedia, penyerapan rute dan volume penumpang dalam jumlah besar dinilai akan lebih sulit dilakukan.

        Tekanan Keuangan AirAsia Meningkat

        Tekanan terhadap AirAsia terjadi di tengah kenaikan biaya bahan bakar jet yang signifikan. Harga bahan bakar jet rata-rata pada kuartal II 2026 mencapai US$183 per barel, naik 66% dibandingkan kuartal sebelumnya akibat dampak perang AS-Israel terhadap Iran.

        AirAsia mencatat rugi bersih 831 juta ringgit atau sekitar Rp3,39 triliun pada kuartal II yang berakhir 30 Juni 2026. Kerugian tersebut dipengaruhi kenaikan biaya bahan bakar jet dan kerugian selisih kurs sebesar 331 juta ringgit.

        Pada periode yang sama, kewajiban lancar AirAsia mencapai 18,4 miliar ringgit atau sekitar Rp75,1 triliun. Maskapai juga memiliki kas dan saldo bank sebesar 954 juta ringgit atau sekitar Rp3,9 triliun.

        AirAsia menyatakan tengah berdiskusi dengan lembaga keuangan untuk memperoleh pendanaan hingga US$1 miliar dari pasar utang internasional, ditambah fasilitas kredit lokal sebesar 700 juta ringgit. Dana tersebut terutama diarahkan untuk restrukturisasi utang.

        Dua sumber yang mengetahui kondisi perusahaan memperkirakan AirAsia membutuhkan sedikitnya US$3 miliar modal baru untuk mengatasi posisi keuangannya. Namun, AirAsia mengatakan target pembiayaan yang telah disiapkan mencukupi kebutuhan perusahaan.

        Saham AirAsia Anjlok 21%

        Tekanan keuangan tersebut turut tercermin di pasar modal. Saham AirAsia pada Kamis (17/9/2026) sempat merosot 21%ke level terendah sejak Desember 2022. Saham perusahaan afiliasi, Capital A, juga turun hingga 18%.

        Secara kumulatif, saham AirAsia telah merosot sekitar 70% sepanjang 2026.

        Di sisi lain, AirAsia memiliki kewajiban kepada MAHB sedikitnya 500 juta ringgit untuk berbagai layanan bandara, termasuk biaya pendaratan dan parkir. Sumber Reuters menyebut operator bandara tersebut telah memberikan perpanjangan waktu pembayaran kepada maskapai.

        MAHB mengatakan pihaknya secara rutin berdiskusi dengan seluruh mitra maskapai terkait pengembangan jaringan dan rute, termasuk peluang penambahan kapasitas ketika terdapat celah pasar atau permintaan yang belum terpenuhi. Namun, MAHB tidak berkomentar mengenai prospek keuangan AirAsia.

        CEO Batik Air Malaysia Chandran Rama Muthy mengatakan maskapainya memiliki kemampuan untuk menambah pesawat dengan cepat jika diperlukan.

        “Kami mampu mendatangkan pesawat dengan cepat untuk menyerap atau membantu mengambil pangsa pasar domestik jika diperlukan,” ujar Chandran.

        AirAsia Pangkas Rute dan Kembalikan Pesawat

        Di tengah tekanan tersebut, AirAsia telah melakukan restrukturisasi dengan memangkas sejumlah rute yang berkinerja rendah, mengembalikan 25 pesawat lama kepada perusahaan lessor, serta melakukan negosiasi ulang kontrak dengan sejumlah vendor untuk menekan biaya.

        Pemerintah Malaysia juga disebut telah menunjuk Alton Aviation Consultancy untuk menilai kebutuhan pendanaan AirAsia. Kajian tersebut menjadi bagian dari pertimbangan pemerintah untuk kemungkinan memberikan dukungan, mengingat posisi AirAsia sebagai perusahaan dengan jumlah tenaga kerja besar sekaligus penyedia konektivitas penerbangan berbiaya terjangkau di kawasan.

        Baca Juga: Penumpang AirAsia Diduga BAB di Kursi, Bau Menyengat Penuhi Kabin hingga Mendarat di Shanghai

        Baca Juga: Lion Air Group Buka Suara soal Delay, Klaim Tak Pernah Kena Sanksi Kemenhub

        Baca Juga: Pesawat Garuda GA604 Pecah Ban Saat Terbang ke Makassar, Mendarat Selamat Bawa 156 Penumpang

        AirAsia sendiri menegaskan tetap fokus menjaga keberlanjutan bisnis dan stabilitas operasional di seluruh pasar yang dilayaninya.

        “Kami tetap fokus menjaga keberlangsungan bisnis dan stabilitas operasional di seluruh pasar kami, serta terus melihat permintaan yang kuat di jaringan kami. Kami juga bekerja sama erat dengan para pemangku kepentingan untuk mengelola kebutuhan keuangan dan operasional kami,” ujar Wakil CEO Grup AirAsia Farouk Kamal.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: