Kredit Foto: Antara/Umarul Faruq
Industri batik Indonesia masih memiliki ruang untuk memperluas pasar ekspor, meski kinerjanya belum sepenuhnya konsisten sepanjang 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor produk batik Indonesia pada 2025 mencapai US$20,14 juta, naik 32,50 persen dibandingkan 2024 yang tercatat US$15,20 juta.
Namun, pada kuartal II 2026, ekspor batik justru turun 13,76 persen secara tahunan menjadi US$4,39 juta dari US$5,09 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi industri batik, terutama industri kecil dan menengah (IKM) yang menjadi bagian besar dari ekosistem batik nasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat terdapat 3.196 unit usaha batik di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.794 merupakan industri mikro, 815 industri kecil, 342 industri menengah, dan 208 industri besar.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pengembangan industri batik tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaannya sebagai warisan budaya. Industri tersebut juga perlu diperkuat dari sisi kualitas, inovasi, kapasitas produksi, hingga akses pasar.
“Batik tidak hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang perlu terus dikembangkan. Pemerintah berkomitmen memacu IKM batik agar mampu meningkatkan kualitas, melakukan inovasi, memperluas akses pasar, dan semakin kompetitif di pasar nasional maupun global,” ujar Agus dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).
Menurut Agus, keberadaan Hari Batik Nasional dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan batik dari berbagai daerah sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi produk batik untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
“Penyelenggaraan Hari Batik Nasional menjadi momentum penting untuk mengeksplorasi lebih jauh kekayaan batik yang tumbuh dan berkembang di berbagai daerah agar semakin dikenal oleh pasar. Hal ini sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap keberagaman motif, filosofi, dan kreativitas batik Indonesia,” katanya.
Di tingkat IKM, persoalan industri batik tidak hanya berkaitan dengan pasar. Regenerasi perajin juga menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan kekuatan IKM batik sebenarnya terletak pada kekayaan motif, keterampilan perajin, dan karakter yang berbeda di setiap daerah.
Namun, karakter tersebut perlu berjalan beriringan dengan kemampuan pelaku usaha membaca perubahan pasar.
“IKM batik memiliki kekuatan pada kekayaan motif, keterampilan perajin, dan karakter khas dari masing-masing daerah. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, kami menekankan pentingnya IKM untuk mengembangkan produk yang tetap mempertahankan identitas budaya, namun mampu mengikuti kebutuhan dan tren pasar,” ujar Reni.
Kemenperin menjalankan sejumlah program untuk memperkuat IKM batik, mulai dari pembangunan dan revitalisasi sentra IKM, pengembangan sumber daya manusia, restrukturisasi mesin dan peralatan, hingga fasilitasi promosi dan pameran.
Pelaku usaha juga didorong mengurus berbagai sertifikasi, termasuk Batikmark, Sertifikat Industri Hijau, dan Sertifikat Halal. Di sisi teknologi, penerapan industri 4.0 juga mulai diarahkan ke sektor batik, antara lain melalui penggunaan Enterprise Resource Planning (ERP).
Kemenperin juga memfasilitasi pelindungan Indikasi Geografis untuk batik yang memiliki kekhasan daerah. Sejauh ini, tiga produk batik telah difasilitasi hingga terdaftar di Kementerian Hukum, yakni Batik Tulis Nitik Yogyakarta, Batik Tulis Complongan Indramayu, dan Batik Tulis Tenun Gedhog Tuban.
Upaya tersebut juga diarahkan untuk menjaga keberlanjutan industri. Kemenperin menjalankan bimbingan teknis, pendampingan, seminar, hingga talkshow bagi pelaku industri dan calon generasi penerus perajin.
“Kami menyadari bahwa seluruh upaya ini tidak akan membuahkan hasil optimal tanpa adanya kolaborasi yang erat antarpemangku kepentingan. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga masyarakat pecinta batik menjadi kunci untuk mewujudkan industri batik nasional yang tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional dan internasional,” kata Reni.
Baca Juga: Kemenperin Soroti Keselamatan Kerja Usai Kebakaran Pabrik di KEK Sei Mangkei
Baca Juga: Kemenperin: Investasi Industri EV Tembus Rp30,4 Triliun dan Serap 40 Ribu Tenaga Kerja
Baca Juga: Food Tray MBG Wajib SNI, Kemenperin Mulai Kawal Sertifikasi Industri
Batik Jawa Timur Jadi Sorotan
Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang akan mendapat perhatian dalam rangkaian Hari Batik Nasional (HBN) 2026. Ketua Yayasan Batik Indonesia (YBI) Gita Pratama Kartasasmita mengatakan provinsi tersebut memiliki ragam batik dengan karakter yang berbeda-beda.
Batik Madura, misalnya, dikenal melalui corak khas dari Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan. Selain itu terdapat Batik Malang, Batik Ponorogo, hingga Batik Tulis Tenun Gedhog Tuban yang telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis.
Menurut Gita, sejumlah motif khas juga masih dipertahankan oleh perajin di Tulungagung.
“Di antara kekayaan tersebut, IKM Batik Tulungagung merupakan salah satu yang masih memegang teguh motif otentik khas daerah hingga saat ini. Motif batik Tulungagung seperti Batik Kalangbret, Batik Bangoan, dan Batik Majanan harus terus dilestarikan,” ujarnya.
Rangkaian HBN 2026 akan dipusatkan di Surabaya. Pameran berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Atrium Plaza Tunjungan 3 dengan melibatkan lebih dari 40 peserta.
Selain pameran, agenda tersebut akan diisi fashion show dan sejumlah diskusi mengenai perkembangan industri batik.
Kegiatan HBN juga terhubung dengan Industrial Fest 2026. Pada 1 Oktober, misalnya, terdapat sesi talkshow bertema “Batik Unlocked: Digital, Sustainable, & Resilient” yang membahas transformasi digital, keberlanjutan, dan ketahanan industri batik.
Ada pula sesi “Core Memory in a Cloth: Kenapa Batik Harus Jadi Bagian dari Identitas Kita?” yang menyasar generasi muda untuk melihat batik tidak sekadar sebagai pakaian tradisional.
Pada 2 Oktober, bertepatan dengan Hari Batik Nasional, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang dijadwalkan memberikan kuliah umum bertema “Make Your Move: Menjawab Tantangan Industri Masa Depan melalui Kebijakan, Inovasi, dan Aksi Gen-Z”.
Sementara itu, puncak perayaan HBN 2026 akan digelar di Dermaga Kapal Taman Prestasi Surabaya dengan tajuk “Batik Berlayar”.
Rangkaian tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk batik, tetapi juga diarahkan untuk mempertemukan isu pelestarian budaya dengan kebutuhan industri. Bagi IKM, tantangannya kini bukan sekadar mempertahankan motif dan teknik produksi, melainkan bagaimana membuat produk tetap relevan, mampu menjangkau konsumen baru, dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan