Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan sepanjang perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda bahkan mencatat pelemahan selama tujuh sesi perdagangan berturut-turut di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan sejumlah sentimen domestik.
Mengutip data Bloomberg, rupiah pada perdagangan Jumat (18/9/2026) ditutup di level Rp17.758 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 5 poin atau 0,03% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.753 per dolar AS.
Dalam sepekan, rupiah melemah 0,83% dari posisi Rp17.611 per dolar AS pada Jumat (11/9/2026). Sementara berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp17.745 per dolar AS pada Jumat, melemah sekitar 0,76% secara mingguan.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Salah satu perhatian pasar adalah kembali memanasnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.
Situasi tersebut menambah risiko terhadap pasokan minyak dunia, terutama setelah konflik sebelumnya mengganggu lalu lintas energi melalui Selat Hormuz.
Namun, pasar juga mencermati kemungkinan Arab Saudi memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat yang sempat mengalami kerusakan akibat serangan drone.
“Pasar justru lebih mencermati tanda-tanda Arab Saudi mungkin dapat memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya, yang sempat rusak akibat serangan pesawat nirawak (drone) pekan lalu,” ujar Ibrahim dalam risetnya.
Ketidakpastian pasokan energi masih berlanjut setelah Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan sebuah kapal tanker berbendera Togo diserang ketika mencoba melintasi Selat Hormuz. Perkembangan tersebut kembali meningkatkan perhatian pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak global.
Baca Juga: Harga Minyak Melampaui Asumsi APBN, Suahasil Ingatkan Risiko Subsidi Energi
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Level Rp17.729 di Awal Perdagangan Pagi Ini
Selain konflik di Timur Tengah, pasar juga mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan keputusan terkait kemungkinan kembali melakukan aksi militer berskala besar terhadap Iran.
China juga mengambil langkah diplomatik dengan mendorong Washington dan Teheran menahan diri serta membuka kembali Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga melakukan konsultasi dengan pejabat China dan Pakistan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: