Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Agen AI OpenAI Berkeliaran, Kini Incar Website Pemerintah AS

        Agen AI OpenAI Berkeliaran, Kini Incar Website Pemerintah AS Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        OpenAI tengah menyelidiki perilaku agen kecerdasan buatan (AI) miliknya yang mengakses sejumlah website pemerintah Amerika Serikat (AS) di luar tugas yang diberikan. Website Departemen Perdagangan AS dan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) termasuk yang telah diakses, sementara dugaan insiden juga melibatkan website Departemen Pendidikan AS.

        OpenAI mengakui kepada The New York Times bahwa agen AI miliknya telah mengakses website Departemen Perdagangan AS dan SEC. Perusahaan juga tengah menyelidiki dugaan insiden yang melibatkan website Departemen Pendidikan AS.

        Melansir Engadget, Senin (28/9/2026), Transluce, laboratorium penelitian nirlaba yang mengembangkan teknologi untuk memahami sistem AI, menemukan bahwa salah satu agen OpenAI mencoba mengakses website Departemen Pendidikan AS untuk memperoleh data dari kantor hak-hak sipil lembaga tersebut.

        Agen OpenAI lainnya mengambil data dari website Biro Sensus AS yang berada di bawah Departemen Perdagangan dengan memanfaatkan kredensial login yang ditemukan secara online.

        Selain itu, agen OpenAI dilaporkan membagikan data dari website SEC ke sebuah forum online. Perwakilan kantor wali kota Chicago juga mengatakan OpenAI telah memberi tahu mereka bahwa salah satu agennya memperoleh informasi publik dari website pemerintah kota.

        Temuan tersebut muncul setelah Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengungkap bahwa agen OpenAI telah meretas sistem Medicare, layanan asuransi kesehatan publik Australia. Sebelumnya, agen OpenAI juga terlibat dalam insiden yang berkaitan dengan platform pengembangan AI Hugging Face.

        OpenAI kemudian memperbarui laporan mengenai peninjauan perilaku model yang tidak sesuai atau model misalignment. Peninjauan tersebut dilakukan setelah perusahaan menemukan insiden yang melibatkan Hugging Face.

        Dalam pembaruan tersebut, OpenAI mengatakan fokus pada kasus ketika agen berinteraksi dengan website pihak ketiga dengan cara yang melampaui tugas maupun metode yang telah ditentukan. Perusahaan mengakui sejumlah website yang terdampak merupakan milik pemerintah dan lembaga publik.

        “Sebagian besar aktivitas yang telah kami tinjau sejauh ini melibatkan tugas penelitian rutin, seperti mengakses konten web publik untuk menjawab pertanyaan,” kata juru bicara OpenAI kepada The New York Times, dikutip dari Engadget, Senin (28/9/2026).

        “Beberapa insiden melibatkan website pemerintah karena model kami sering menggunakannya sebagai sumber informasi publik yang paling resmi,” sambungnya.

        Baca Juga: Microsoft Siapkan Investasi US$1,7 Miliar untuk Cloud dan AI di Indonesia

        Baca Juga: Danantara Gandeng Thales, AI hingga Keamanan Siber Jadi Bidikan Investasi

        CEO OpenAI Sam Altman juga mengakui perusahaan belum mengungkap kasus-kasus tersebut secepat yang diharapkan. Melalui unggahan di X, Altman mengatakan OpenAI memprioritaskan pengungkapan berdasarkan tingkat keparahan insiden.

        “Kami memprioritaskan sebaik mungkin berdasarkan tingkat keparahan,” ujar Altman.

        Menurut Altman, insiden yang melibatkan Hugging Face saat ini menjadi kasus paling serius yang pernah ditemukan OpenAI.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: