Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, menyebut pengembangan hilirisasi bauksit melalui Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, Kalimantan Barat telah mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap impor bahan baku aluminium sekaligus menghemat devisa sekitar Rp7–9 triliun.
Arif mengatakan, sebelum memiliki fasilitas pengolahan alumina sendiri, Inalum masih harus memenuhi kebutuhan bahan baku aluminium melalui impor. Namun, beroperasinya SGAR membuat rantai pasok aluminium nasional mulai terintegrasi dari bauksit hingga alumina.
“Sebelumnya, Inalum itu impor aluminanya. Tapi sekarang dengan memiliki sendiri alumina refinery maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih 7 sampai 9 triliun,” ujar Arif dalam diskusi terkait hilirisasi, Jakarta, dikutip Kamis (8/10/2026).
Menurut Arif, capaian tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem hilirisasi bauksit di Mempawah yang memiliki nilai investasi mencapai sekitar Rp100 triliun. Proyek tersebut mencakup enam proyek, terdiri dari lima proyek di bawah grup MIND ID dan satu proyek yang melibatkan Pelindo.
Baca Juga: INALUM Ungkap Calon Mitra JV Smelter Mempawah, Ada Danantara hingga Investor China
Baca Juga: INALUM Kantongi Rating BBB- S&P Jelang Pendanaan SGAR 2 dan Smelter 2
Rangkaian proyek tersebut mencakup seluruh rantai industri, mulai dari tambang bauksit, pengolahan menjadi alumina melalui SGAR, hingga pembangunan smelter aluminium sebagai tahap lanjutan hilirisasi.
Pada sisi hulu, pasokan bauksit berasal dari satu IUP milik Antam dan enam IUP anak perusahaan Antam. Pengembangan tambang tersebut mencakup area sekitar 44.000 hektare yang menjadi bagian dari kebutuhan bahan baku industri pengolahan.
Saat ini, SGAR fase 1 telah beroperasi dengan kapasitas sekitar 1 juta ton alumina. Dari jumlah tersebut, sekitar 550 ribu ton digunakan untuk memenuhi kebutuhan Inalum, sementara sekitar 450 ribu ton masih diarahkan untuk pasar ekspor.
Ke depan, Inalum akan melanjutkan pengembangan SGAR fase 2 yang akan terintegrasi dengan pembangunan smelter aluminium. Arif mengatakan, keputusan pembangunan fasilitas tersebut diarahkan agar produksi alumina dapat sepenuhnya terserap oleh industri dalam negeri.
“Oleh karena itu kita memutuskan bahwa FID-nya harus diputuskan bersamaan dengan smelter. Kenapa? Karena aluminanya hanya akan dibangun kalau smelternya dibangun. Artinya akan kita pakai sendiri semuanya,” katanya.
Arif menjelaskan, smelter aluminium tersebut dirancang memiliki kapasitas sekitar 600 ribu ton dengan nilai investasi sekitar US$2,7 miliar atau sekitar Rp46 triliun. Sementara tambahan investasi untuk SGAR fase 2 diperkirakan mencapai sekitar Rp15 triliun-Rp18 triliun.
Dengan pengembangan tersebut, total investasi lanjutan ekosistem aluminium Mempawah mencapai lebih dari Rp60 triliun, yang mencakup fasilitas pengolahan alumina hingga produksi aluminium primer.
Namun, Arif menilai tantangan berikutnya bukan hanya membangun kapasitas produksi, tetapi juga memastikan adanya penyerapan pasar domestik. Saat ini konsumsi aluminium nasional masih relatif rendah, yakni sekitar 400 ribu ton per tahun atau sekitar 1,5 kilogram per kapita, jauh dibandingkan konsumsi aluminium negara maju seperti Eropa dan China yang mencapai sekitar 24–26 kilogram per kapita.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah agar peningkatan kapasitas industri aluminium nasional dapat diikuti dengan pertumbuhan industri pengguna di dalam negeri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: